Batu, SERU.co.id – Tren peningkatan permintaan camilan khas daerah ternyata tidak selalu membawa angin segar bagi para produsen. Saat ini, para pengusaha industri kecil keripik sayur dan buah di Kota Batu tengah dipusingkan dengan melonjaknya harga Ubi Ungu akibat kelangkaan bahan baku di pasaran.
​
​Kesulitan ini dirasakan langsung oleh Mohammad Dzikri, salah satu pengusaha keripik aneka sayur dan buah di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Dzikri mengaku harus turun langsung ke tingkat petani demi mengamankan stok Ubi Ungu. Sayangnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal.
​”Ketersediaan di tingkat petani saat ini sangat terbatas. Kami masih harus menunggu masa panen dalam beberapa waktu ke depan,” seru Dzikri saat ditemui SERU.co.id
Dzikri mengungkapkan, kondisi ini berdampak langsung pada manajemen produksi, di mana Harga Pokok Penjualan (HPP) ikut terkerek naik. Hal ini memaksa para pengusaha memutar otak agar tetap bisa berproduksi tanpa kehilangan konsumen. ​Biasanya, para pengusaha di Kota Batu mengandalkan pasokan Ubi Ungu dari daerah Kasembon, Kabupaten Malang, yang dikenal sebagai sentra penghasil Ubi Ungu berkualitas.
“Saat ini karena stoknya terbatas membuat persaingan untuk mendapatkan bahan baku sehingga memicu kenaikan harga. Ya Supply dan demandnya tidak seimbang,” tuturnya.
​Dzikri menambahkan, ​Ubi Ungu merupakan komoditas vital bagi industri kreatif di Malang Raya. Produk olahannya menjadi primadona wisatawan, di antaranya ​Keripik Ubi Ungu dan ​Stik Ubi Ungu. ​Kenaikan biaya produksi ini menjadi tantangan besar, mengingat Ubi Ungu adalah komponen utama dalam paket Keripik Aneka Sayur.
“Kami cuma berharap harganya segera stabil, supaya kami tidak harus menyesuaikan harga produk di tingkat pengecer atau pengurangan margin keuntungan,” pungkasnya. (dik/mzm)









