Jakarta, SERU.co.id – Pelangi di Mars, film Sci-Fi (science fiction/fiksi ilmiah) jadi kado lebaran anak-anak dan keluarga Indonesia. Film Pelangi di Mars bukan hanya sekadar tontonan libur Lebaran, namun bukti nyata imajinasi dan teknologi anak bangsa mampu menembus batas galaksi.
Daftar Isi
Bukan Sekadar Film, Namun Dedikasi Ratusan Kreator
Di balik kemegahan visualnya, film Pelangi di Mars menyimpan cerita tentang dedikasi dan mimpi kolektif. Produser Dendi Reynando mengatakan, sebuah momen mengharukan saat acara JAFF Market. Di mana ia bertemu dengan salah satu 3D animator dari vendor yang terlibat dalam proyek ini.
“Dia datang jauh-jauh hanya untuk berterima kasih, karena desainnya bisa menjadi bagian dari film ini. Dari situ saya menyadari bahwa Pelangi di Mars jauh lebih besar dari sekadar saya dan Upie. Film ini adalah milik kita semua, milik ratusan orang yang telah menaruh hatinya di sini,” seru Dendi, dalam keterangan resminya kepada SERU.co.id.
Menurut Dendi, proyek ini merupakan produksi dengan anggaran terbesar bagi Mahakarya Pictures sejauh ini. Karakter Pratiwi dalam film ini terinspirasi dari sosok Pratiwi Sudarmono, ilmuwan Indonesia yang pernah terpilih sebagai calon antariksawan NASA pada tahun 1985.

Senada, sutradara Upie Guava menegaskan, film ini adalah sebuah gerakan kolektif para seniman visual Indonesia.
“Film ini adalah bentuk usaha maksimal dari dedikasi para editor, animator, VFX artists, dan ratusan orang lain yang menyumbangkan bakatnya. Ini bukan sekadar proyek, namun sebuah gerakan. Kami persembahkan film ini untuk anak-anak Indonesia dan kalian semua yang percaya akan kekuatan dari sebuah mimpi,” tutur Upie.
Film ini merupakan debut penyutradaraan film panjang Upie setelah sebelumnya dikenal melalui karya dokumenter dan video musik. Sutradara Upie Guava memulai riset untuk proyek ini sejak awal tahun 2020.
Film ini diproduksi oleh Mahakarya Pictures bekerja sama dengan MBK Productions. Serta didukung oleh Produksi Film Negara (PFN), RANS Entertainment, Guava Film, DossGuavaXR Studio, dan A&Z Films. Naskah film ini ditulis oleh Upie bersama Alim Sudio.
Teknologi XR Pertama: Langkah Besar Industri Film Nasional
Perjalanan panjang selama lebih dari lima tahun ini melibatkan ratusan talenta terbaik dari seluruh penjuru Indonesia. Mereka bersatu dengan satu misi: mendorong maju perfilman Indonesia ke level dunia.
Pelangi di Mars mencatatkan diri sebagai film Indonesia pertama yang menggunakan teknologi Extended Reality (XR) secara masif. Sebuah inovasi mutakhir yang bahkan masih tergolong baru di industri perfilman global.
Karya ambisius dari Mahakarya Pictures dan sutradara Upie Guava ini hadir sebagai karya seni dengan pengaruh besar untuk perkembangan imajinasi anak-anak. Produksinya memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) dan metode produksi hybrid. Yaitu menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual tiga dimensi.
Pelangi di Mars membawa penonton dalam petualangan visual yang seru, edukatif, dan penuh imajinasi. Mengajak anak-anak Indonesia menjelajahi Planet Merah dengan standar kualitas yang belum pernah ada sebelumnya di perfilman Indonesia.
Kisah Panjang Teknis dan Syuting Film Pelangi di Mars
Proses syuting Pelangi di Mars menggunakan metode hybrid, menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual. Teknologi Extended Reality (XR) digunakan untuk memproyeksikan latar belakang Planet Mars menggunakan perangkat lunak Unreal Engine ke layar LED besar di studio DossGuavaXR.
Proses produksi dibagi menjadi dua fase utama:
• Motion-capture: Dilakukan selama 12 hari untuk merekam gerakan dasar bagi karakter-karakter robot.
• Live-action: Dilakukan selama 14 hari untuk adegan yang melibatkan aktor manusia.
Pemeran utama Pelangi (Messi Gusti) menjalani proses syuting panjang, dimulai dari pengambilan gambar first look saat ia berusia 11 tahun. Hingga proses pascaproduksi saat ia duduk di bangku SMP. Ia juga menjalani workshop khusus untuk mempelajari teknik berjalan di lingkungan gravitasi rendah layaknya seorang astronot.
Menikmati Perjalanan Pelangi di Mars bersama Keluarga saat Lebaran 2026
Pelangi di Mars tayang serentak di bioskop Indonesia pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan libur Idulfitri. Pelangi di Mars adalah film fiksi ilmiah keluarga Indonesia, berlatar masa depan pada tahun 2090. Mengisahkan kehidupan seorang anak yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars.

Pada tahun 2090, kondisi Bumi menjadi tidak layak huni akibat krisis air bersih yang dimonopoli oleh perusahaan bernama Nerotex. Hal ini memaksa manusia untuk membentuk koloni di Planet Mars.
Cerita berfokus pada Pelangi (Messi Gusti), seorang gadis berusia 12 tahun yang memiliki status unik sebagai manusia pertama yang lahir dan tumbuh besar di Mars. Setelah ibunya, Pratiwi (Lutesha), dan koloni manusia lainnya meninggalkan planet tersebut, Pelangi tinggal bersama sekelompok robot yang terbengkalai.
Bersama para robot tersebut, Pelangi berpetualang mencari mineral langka bernama Zeolith Omega yang diyakini dapat memurnikan air di Bumi.
Para Artis Nasional Tampil dan Berperan di Balik Layar
Para pemeran karakter manusia, di antaranya:
• Messi Gusti sebagai Pelangi
• Lutesha sebagai Pratiwi
• Rio Dewanto sebagai Banyu
• Livy Renata sebagai Mirna
• Myesha Lin sebagai Pelangi kecil
Sementara, pemeran di balik layar karakter robot diisi voice actor oleh:
• Bimo Kusumo sebagai Batik
• Dimitri Arditya sebagai Sulil
• Vanya Rivani sebagai Kimchi
• Kristo Immanuel sebagai Yoman
• Gilang Dirga sebagai Petya
(rhd)









