Rupiah Tembus Rp17.000 per USD, Konflik Timur Tengah Lemahkan 11 Mata Uang Asia

Rupiah Tembus Rp17.000 per USD, Konflik Timur Tengah Lemahkan 11 Mata Uang Asia
Ilustrasi melemahnya nilai tukar rupiah. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – Nilai tukar rupiah melemah tajam hingga menembus level Rp17.000 per dolar AS (USD) pada perdagangan Senin (9/3/2026). Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini membuat investor beralih ke aset aman dan melemahkan 11 mata uang negara Asia maupun negara berkembang.

Hingga sore pukul 15.30 WIB, rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.969 per dolar AS. Posisi ini semakin mendekati level psikologis Rp17.000 yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 11 mata uang Asia kompak bergerak di zona merah terhadap dolar AS pada awal pekan ini. Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, turun sekitar 1,04 persen ke level THB 32,09 per dolar AS. Peso Filipina melemah hingga 1,14 persen ke posisi PHP 59,68 per dolar AS.

Tekanan juga terjadi pada won Korea Selatan yang turun 0,87 persen ke level KRW 1.494,1 per dolar AS. Yen Jepang melemah 0,55 persen menjadi JPY 158,65 per dolar AS. Sementara dolar Taiwan turun 0,54 persen ke TWD 31,98 per dolar AS dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,53 persen ke MYR 3,96 per dolar AS.

Selain itu, rupee India melemah 0,37 persen ke INR 92,27 per dolar AS. Diikuti dong Vietnam yang turun 0,36 persen ke VND 26.287 per dolar AS. Yuan China melemah 0,32 persen menjadi CNY 6,91 per dolar AS dan dolar Singapura turun 0,3 persen ke SGD 1,28 per dolar AS.

Konflik Timur Tengah Dorong Penguatan Dolar

Tekanan terhadap rupiah semakin besar setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu lonjakan harga energi. Bahkan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Harga minyak mentah dunia bahkan melonjak hingga menembus lebih dari US$113 per barel. Kenaikan harga energi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi di berbagai negara.

Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto menilai, pelemahan rupiah saat ini terutama dipicu oleh faktor eksternal.

“Kalau saya lihat sih ini memang murni dari tekanan global. Terutama dampak perang yang luas. Lalu diikuti dengan kekhawatiran adanya gangguan supply chain atau supply shock,” seru Myrdal, dikutip dari CNBC, Senin (9/3/2026).

Menurut dia, pasar global khawatir pasokan minyak dunia terganggu akibat konflik tersebut. Kekhawatiran ini mendorong investor mencari aset yang lebih aman.

Arus Modal Asing Keluar

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik. Investor global mulai menarik dana dari pasar saham dan obligasi negara berkembang.

Myrdal memperkirakan, arus keluar dana asing di pasar saham Indonesia mencapai lebih dari US$50 juta per hari. Sementara itu, di pasar obligasi pemerintah, arus keluar diperkirakan mencapai lebih dari Rp500 miliar.

Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar AS. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia dinilai perlu memperkuat langkah stabilisasi. Khususnya untuk menjaga pergerakan rupiah agar tidak terlalu volatil.

Langkah yang bisa dilakukan intervensi di pasar valuta asing. Baik di pasar spot maupun pasar forward seperti Non Deliverable Forward (NDF). Selain itu, bank sentral juga dapat masuk ke pasar sekunder surat utang negara untuk meredam tekanan di pasar obligasi.

“Ruang kebijakan moneter Indonesia masih cukup kuat, karena cadangan devisa tergolong besar. Hingga Februari lalu, cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai sekitar US$151,9 miliar,” tambahnya.

Versi Bahasa Inggris

Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga dapat memperkuat stabilisasi likuiditas. Yakni melalui peningkatan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Khususnya untuk menyerap likuiditas di pasar.

Pelemahan rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS ini disebut menjadi salah satu titik terendah dalam sejarah nilai tukar rupiah. Melampaui level terburuk saat krisis moneter 1998 maupun periode pandemi COVID-19. (aan/rhd)

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id