Teheran, SERU.co.id – Gelombang baru eskalasi konflik Timur Tengah kembali mengguncang. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, diklaim gugur dalam serangan Israel-AS. Media yang dekat Garda Revolusi menyebut Khamenei gugur dan mengumumkan masa berkabung nasional 40 hari.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan, gelombang keenam serangan telah dimulai. Sedikitnya 27 titik menjadi sasaran, termasuk pangkalan udara Tel Nof, markas besar angkatan darat Israel dan kompleks industri militer di Tel Aviv.
“Serangan balasan ini tidak akan berhenti. Kami tidak akan membiarkan sirene di Israel dan pangkalan AS menjadi hening,” seru pernyataan IRGC.
Daftar Isi
Klaim Ayatollah Khamenei Gugur
Di tengah serangan tersebut, kantor berita Iran Fars dan Tasnim melaporkan Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara Israel dan AS, Sabtu (28/2/2026). Laporan itu menyebut Khamenei gugur di kantornya saat menjalankan tugas, bersama seorang putri, menantu dan cucunya.
Televisi pemerintah Iran menggambarkan kematian tersebut sebagai simbol kepemimpinan Khamenei. Dimana ia berdiri di garis depan tanggung jawabnya melawan arogansi global. Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional 40 hari dan meliburkan aktivitas publik selama tujuh hari.
Namun, klaim itu dibantah keras oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Araghchi menegaskan, Khamenei masih hidup dan situasi Iran tetap dalam kendali pemerintah. Ia juga mempertanyakan alasan AS menyerang di tengah proses negosiasi.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump menyatakan, Khamenei telah terbunuh dalam serangan AS–Israel. Ia menyebut peristiwa itu sebagai kesempatan terbesar rakyat Iran untuk merebut kembali negaranya.
Reza Pahlavi: Republik Islam Telah Berakhir
Reaksi keras juga datang dari tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran. Pahlavi menyebut, Khamenei sebagai ‘Zahhak haus darah’ dan menyatakan kematiannya menandai berakhirnya Republik Islam Iran.
Ia menyerukan, aparat militer dan keamanan meninggalkan rezim dan bergabung dengan rakyat. Bahkan, Pahlavi menyebut momen ini sebagai perayaan nasional besar. Ia meminta warga Iran bersiap turun ke jalan.
Siapa Ayatollah Ali Khamenei?
Khamenei merupakan figur sentral politik Iran selama lebih dari tiga dekade. Ia menjabat sebagai pemimpin tertinggi sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, arsitek Revolusi Islam Iran.
Sebelumnya, Khamenei pernah menjadi presiden Iran di era Perang Iran–Irak pada 1980-an. Pengalaman perang, isolasi internasional dan dukungan Barat terhadap Irak di bawah Saddam Hussein membentuk sikap kerasnya terhadap AS dan sekutunya.
Selain tokoh politik, Khamenei mengajar yurisprudensi dan tafsir teologi. Ia juga pernah berulang kali dipenjara dan diasingkan oleh polisi rahasia Shah (SAVAK). Yakni sebelum ikut memimpin protes besar tahun 1978 yang menjatuhkan monarki Pahlavi. (aan/rhd)









