Sumenep, SERU.co.id – Adu kecakapan dan kompetensi untuk menjadi ‘macan kertas’ di meja asesmen Bursa Lelang Sekretaris Daerah (Sekda) yang diselenggarakan oleh Panitia Seleksi (Pansel) Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama eselon II a sudah tuntas.
Namun dari hasil Uji Kompetensi Jabatan (UKJ) oleh Pansel Sekda tidak sekadar melahirkan 3 ‘Macan Kertas’ yakni Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid (Inung) dan R. Abd. Rahman Riadi. Melainkan lahir birokrat ulung yang bisa eksekusi kebijakan, fiskal policy, reformasi birokrasi dan akselerasi kepentingan legislatif dan eksekutif. Ketiganya tinggal mengundi nasib untuk jadi Sekda setelah Pansel Sekda merekomendasikan 3 nama ‘Pejabat Teras’ itu.
Alotnya persaingan perebutan kursi panas Sekda Sumenep ini jadi atensi pengamat politik dan kebijakan publik, Ach. Djoni Tunaedy. Kontestasi birokrat eselon II a ini benar-benar sebuah pertarungan yang sengit. Kompetisi calon Sekda kali ini benar-benar ‘Perang Bintang’. Ibaratnya perang antara Gerbong IPDN versus Non IPDN.
“Saya dari dulu mengamati tiap seleksi terbuka atau lelang jabatan Sekda tidak sesengit kali ini. Bayangkan, dua calon kuat sekda yakni Arif Firmanto dan Eri Susanto tumbang sebelum masuk pusaran kandidat 3 besar,” terang Bung Jon, panggilan bekennya.
Menurut mantan anggota DPRD Sumenep ini, terlepas dari uji kompetensi jabatan (asesmen) yang berlangsung fair dan independen, logika politik kekuasaan mendeteksi dari awal perebutan kursi panas sekda ini hanyalah pertarungan 2 gerbong kekuasaan yakni Gerbong IPDN Vs Non IPDN.
“Ada gerbong IPDN (Alumni Institute Pemerintahan Dalam Negeri) yang direpresentasikan lewat nama Agus Dwi Saputra. Sedangkan calon kuat Sekda Non IPDN direpresentasikan melalui Arif Firmanto. Ingat di luar asesmen, kedua gerbong diduga melakukan manuver politik untuk bisa tembus kandidat 3 besar,” beber eks Ketua Partai Demokrat Sumenep ini.
Namun, lanjut Bung Jon, isu kadung santer beredar jika penguasa Sumenep disinyalir lebih menginginkan Arif. Dia digadang-gadang sebagai ‘pewaris tunggal’ Sekda Sumenep. Bahkan framingnya terlanjur dinobatkan sebagai penerus ‘Putra Mahkota’ Sekda Sumenep.
Akan tetapi, papar pengusaha kelas kakap ini, dalam proses seleksi terbuka Sekda itu, Arif tumbang di tahapan seleksi kedua. Dia bukan gagal karena tidak lolos seleksi melainkan mundur tanpa alasan yang jelas. Patut diduga, Arif mundur karena adanya tekanan atau kekuatan politik yang besar.
“Spekulasi politiknya, skenario awal kekuasaan gagal untuk ‘mewariskan Sekda’ pada Arif. Jika plan A (rencana utama) menjadikan Arif sebagai Sekda gagal maka plan B (rencana cadangan) dijalankan. Yakni bakal mendudukkan Eri di kursi Sekda,” duganya.
Tapi lagi-lagi sayang, Eri yang notabene Non IPDN pun kandas. Dia dinyatakan tidak lolos di tahapan seleksi akhir dengan status Tidak Memenuhi Syarat (TMS) untuk masuk sebagai kandidat 3 besar. Kini, kedua gerbong Non IPDN itu sudah gagal.
Maka, kata dia, tinggal gerbong IPDN yakni Agus yang melaju hingga masuk dalam kandidat 3 besar. Awalnya di posisi 3 besar ini Agus di atas angin. Lebih besar kans nya untuk jadi Sekda. Namun ternyata di 3 besar itu ada nama Inung yang sama-sama kuat relasi kekuasaan dan jejaring politik yang hebat.
Menurut politisi senior ini, ternyata ada yang luput dari amatan politik. Gerbong Agus harusnya mewaspadai Inung sebagai ‘kuda hitam’. Bahkan kekuatan Inung diprediksi bakal menyalip di tikungan terakhir. Namun jika persaingan Agus dan Inung terlalu keras, tak menutup kemungkinan Rahman yang masuk 3 besar yang akan ‘direstui bupati’ jadi Sekda. (edo/mzm)









