Waspada Gelombang Tiga Virus Sampai Penyakit Kronis

Malang, SERU.co.id – Meski angka sebaran kasus Covid-19 Kota Malang menurun, namun gelombang tiga harus diwaspadai. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr. Husnul Muarif mengungkapkan, pelonggaran sedikit demi sedikit diterapkan dalam berbagai sektor pendidikan, ekonomi, maupun bidang lainnya. Sehingga perlu ada komitmen dalam kedisiplinan oleh semua pihak.

“Kami imbau kepada warga tetap mematuhi protokol kesehatan dan regulasi yang sudah ada,” kata dr. Husnul Muarif, dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (26/10/2021).

Selain menggunakan aplikasi PeduliLindungi dalam pusat keramaian, Pemkot Malang akan mempercepat vaksinasi. Warga yang belum vaksin diharapkan bisa vaksin, baik dosis satu maupun dosis dua. Dr. Husnul juga menambahkan, selain pandemi covid-19, pihaknya juga mewanti-wanti untuk menjaga kesehatan dengan penyakit kronis lain.

Upaya yang dilakukan Pemkot Malang tetap melalui klinik, puskesmas dan rumah sakit. Di mana memiliki program untuk mengantisipasi penyakit menular dan kronis, melalui program pengelolaan penyakit kronis (prolanis).

“Juga mengaktifkan prolanis yang ada di puskesmas. Di sana sudah ada kelompok-kelompoknya,” ungkapnya.

Sementara sebelumnya, Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji mengungkapkan, untuk mengantisipasi adanya lonjakan gelombang kasus positif seperti di awal tahun 2021. Pihaknya bakal menguatkan prokes dan vaksinasi 100 persen, termasuk booster.

“Kita sudah mulai (vaksin booster) diperbolehkan. Informasi dari Bapak Menteri kemarin di Youtube disiapkan 24 juta untuk vaksin ketiga,” jelas Sutiaji.

Walikota Malang, Drs H Sutiaji menjelaskan wacana vaksin boster untuk kuatkan Umun tubuh. (jaz) - Waspada Gelombang Tiga Virus Sampai Penyakit Kronis
Walikota Malang, Drs H Sutiaji menjelaskan wacana vaksin boster untuk kuatkan Umun tubuh. (jaz)

Menurutnya, informasi dari epidemiolog memprediksi bulan Desember akan ada lonjakan, tapi mudah-mudahan tidak terjadi. Penanganan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, termasuk berhasil karena menerapkan tingkat bawah.

“Di luar negeri sana tidak ada RT/RW, sementara kita berlapis penjagaan di tingkat RT/RW dan kecamatan,” ujar pria penyuka makanan pedas ini.

Senada, staf pengajar di Departemen Gastroenterohepatologi Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar (RSSA), dr. Syifa Mustika menyebutkan, definisi pandemi ialah suatu wabah yang berdampak di seluruh dunia. Sehingga WHO di bulan April  menyebutkan Covid-19 adalah pandemi.

Kominfo Malang

Selanjutnya, untuk merubah menjadi endemi, tidak bisa hanya di negara Indonesia, tapi tetap tergantung bagaimana dengan Covid-19 di seluruh dunia.

“Kalau menurut saya sebaiknya tetap wait and see saja. Karena menjadi endemi itu tidak enak. Sama seperti Indonesia menjadi endemi untuk beberapa penyakit infeksi, kayak demam berdarah, ini akan selalu ada sepanjang tahun,” jelas dokter yang baru me-launching buku terbarunya ‘Kupas Tuntas Vaksinasi Covid-19’ ini.

Pihaknya berpendapat, untuk Covid-19 berharap benar-benar hilang. Tidak berubah menjadi endemi adalah harapan keadaan bisa kembali seperti semula atau new normal.

Usaha yang dilakukan tetap menguatkan herd immunity, dan menyukseskan program vaksinasi tanpa terkecuali. Upaya tersebut sambil menunggu situasi dan keadaan semoga lekas membaik.

“Justru kita berharap bahwa pandemi bisa teratasi, itu kalau dari sisi saya,” imbuhnya.

Dirinya mengungkapkan, kemarin baru saja ke Kota Batu dengan situasi sudah ramai seperti normal. Pihaknya berpesan, meskipun angka Covid-19 sudah menurun, tetap hindari kerumunan dan menjaga prokes.

“Jangan sampai terlalu euforia, kalau ingin jalan-jalan ya tidak apa-apa monggo. Jangan sampai timbul keramaian-keramaian lagi,” pungkas dokter kelahiran Banyuwangi tahun 1978 ini. (adv/jaz/rhd)


Baca juga: