Warga Kedungbocok Tarik Tolak Pembangunan Tower Seluler

Sidoarjo, SERU.co.id – Berdirinya bangunan tower provider XL di lingkungan wilayah RW 05 Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo diprotes sejumlah warga. Hal ini lantaran, diduga bangunan tower setinggi 50 meter ini tidak ada sosialisasi antar warga sekitar.

Selain itu, warga juga khawatir dampak lingkungan yang ditimbulkan dari bangunan tower itu. Apalagi bangunan ini berdiri di atas lahan yang ada tepi ruas jalan kampung dan dekat dengan pemukiman penduduk.

Masyarakat Peduli Lingkungan, Jauhar Mukhlas menceritakan awalnya sebagai warga sekitar tidak tahu menahu pembangunan tower itu. Alasannya, karena tidak ada sosialisasi.

“Jadi, ini terkesan semuanya sendiri. Karena secara sepihak kami tidak ada pemberitahuan sama sekali,” ujarnya, Senin (26/04/2021) sore.

Jauhar beralasan menolak pembangunan bangunan tower itu, karena sebagai masyarakat awam yang sebenarnya butuh penjelasan dan ingin tahu dampaknya juga belum ada penjelasan.

“Bagi kami pembangunan tower ini tidak aman bagi lingkungan. Karena untuk ukuran tanah tower berdimensi pondasi 10 meter kali 10 meter. Kalau untuk tingginya sejak awal mengklaim lebih kurang 50 meter. Untuk ukuran dan tingginya tower, kami tidak tahu pasti. Karena tidak ada sosialisasi sama sekali sebelumnya,” ungkapnya.

Untuk saat ini, kata Jauhar, informasi yang diperoleh tower ini milik operator seluler XL. Selain itu, pembangunannya saat ini masih berjalan. Meskipun proses penggalian pondasi hingga sekarang kurang lebih sebulan.

“Yang menjadi unek-unek saya dan warga sekitar, kalau memang dari pihak kontraktor ini merasa sesuai prosedur kenapa sama sekali tidak pernah menghiraukan warga sekitar dan tidak ada sosialisasi,” tegasnya.

Padahal, kata Jauhar, pihak Pemerintah Desa Kedungbocok sudah mengajukan aspirasinya mulai dari bawah Rukun Tetangga (RT) hingga kemarin maju ke tingkat balai desa (Pemdes).

Baca juga:   KSAL Tegaskan Akan Pecat Prajurit TNI AL Terlibat LGBT

“Dari pihak pemerintah desa hanya menjanjikan saja. Tapi, ternyata setelah tenggang waktu yang diberikan, tidak pernah ada yang namanya realisasi. Itu sudah diucapkan lebih kurang saat pengajuan hingga sekarang sudah dua minggu,” jelasnya.

Karena itu, Jauhar menilai jika melihat dari kondisi sekitar lebih baik ditutup pembangunan tower itu. Karena warga tidak pernah tahu dampak dan efek kedepannya.

“Mulai proses awal saja sudah tidak transparan. Kami ebagai warga sama sekali tidak dianggap sebagai manusia. Kami tidak dianggap sama sekali,” tandasnya. (wan/ono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *