UMM Launching 3 Buku ‘Sang Guru Bangsa’ Abdul Malik Fadjar

Malang, SERU.co.id – Tak terasa setahun berlalu sejak meninggalnya Sang Guru Bangsa, Prof H Abdul Malik Fadjar MSc, pada 7 September 2020 lalu. Merefleksikan Hari Guru Nasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaunching tiga buku yang membahas Malik Fadjar, di Hall Dome UMM, Kamis (25/11/2021).

Ketiga buku yang dilaunching tersebut, di antaranya Negarawan, Pendidik, dan Agamawan Lintas Generasi; Sang Fadjar, Menyinari Bumi Pertiwi; dan Pak Malik, di Mata Milenial. Yang ditulis dan dipersembahkan oleh para sahabat, murid terbaik dan aktivis muda Muhamadiyah.

“Buku ini sebagai bentuk mengenang beliau dan jasa-jasanya terhadap Muhamadiyah. Jejaknya sangat nyata di UMM dan patut diteladani, namun bukan mengkultuskan beliau. Sekaligus momentum Dies Natalis ke-57 UMM dan Hari Guru Nasional,” seru Wakil Rektor I UMM Prof Dr Syamsul Arifin, MSi, mewakili Rektor UMM Dr Fauzan, MPd.

Para kerabat, saksi hidup Malik Fadjar bersama dengan para pejabat UMM. (ist) - UMM Launching 3 Buku 'Sang Guru Bangsa' Abdul Malik Fadjar
Para kerabat, saksi hidup Malik Fadjar bersama dengan para pejabat UMM. (ist)

Menurutnya UMM terus berkembang karena tangan dingin Malik Fadjar. Di bawah kepemimpinannya sejak menjadi Rektor UMM pada 1983-2000, UMM langsung berkembang dan bertahan hingga sekarang dengan segala prestasi regional hingga Internasional.

“Beliau besar dari keluarga guru, mengawal profesinya sebagai guru, dan hingga akhir hayatnya sebagai guru besar UMM. Beliau menjadi Inspirator Teacher, karena touchingnya beda, pola pemikiran, gesture, dan gerak langkah seorang pemimpin sangat jelas,” beber Syamsul Arifin.

Acara ‘Mengenang Sang Guru Bangsa, Prof H Abdul Malik Fadjar MSc’ diikuti oleh dosen dan karyawan secara daring dan luring, Kampus Putih turut menghadirkan beberapa pembicara dari kerabat dan saksi hidup kiprah Malik Fadjar.

Salah satunya, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, sekaligus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Muhadjir mengaku mengenal Malik Fadjar sejak kelas 3 SMP. Diceritakan Muhadjir,

“Dulu Malik sempat ingin pergi ke Jakarta, namun diyakinkan untuk berkiprah di UMM. Bersama salah satu teman, kami berhasil meyakinkan Pak Malik bahwa dia bisa menjadi orang hebat, meski berada di Malang. Tepatnya berjuang membangun UMM,” tuturnya.

Pengalaman berharga Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, bersama Malik Fadjar. (ist) - UMM Launching 3 Buku 'Sang Guru Bangsa' Abdul Malik Fadjar
Pengalaman berharga Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP, bersama Malik Fadjar. (ist)

Sayangnya, Malik waktu itu belum memiliki kartu anggota Muhammadiyah. Sehingga tidak bisa mencalonkan diri menjadi Rektor UMM. Muhadjir mengatakan, ia sampai bersusah payah ke Yogyakarta untuk mengurusnya.

“Berbagai pengalaman yang telah dilalui oleh Pak Malik menjadi pengingat bagi kita untuk terus meneladani kehumanisan dan pandangan-pandangannya yang luar biasa,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.Si mengatakan, jika para peserta dan tamu ingin menjadi manusia yang sukses. Maka Malik Fadjar adalah sosok yang tepat, karena telah sukses dalam aspek keluarga, perjuangan politik, dan juga dalam dunia pendidikan

“Kehidupan Pak Malik yang lapang dan lancar, tentu salah satunya ditopang oleh doa-doa, puasa dan juga tahajud dari Bu Malik. Tidak seperti istri Abu Lahab yang malah mengompori, ketika Pak Malik pulang dengan kepenatan, Bu Malik hadir untuk mendinginkan,” tuturnya.

Imam menyampaikan hal menarik bagaimana Malik Fadjar sangat menghargai dan menghormati istrinya. Ia selalu berdiskusi terkait keputusan-keputusan yang ia buat, hingga masalah-masalah pelik yang sedang Malik hadapi.

Ia juga mengenang bagaimana Malik tidak suka sama sekali dengan budaya ‘titip-menitip’. Mereka yang dititipkan adalah mereka yang bermasalah. Jika orang yang bermasalah dimasukkan ke universitas, maka tinggal menunggu waktu saja menjadi perguruan tinggi yang bermasalah.

“Dulu, Pak Malik juga berpesan bahwa dosen itu memberikan cahaya. Selalu terang di berbagai aspek seperti agama, ilmu dan lainnya. Jika seorang dosen gelap, maka akan melahirkan kegelapan. Sebaliknya, jika terang, akan menghasilkan cahaya terang,” tegasnya. (rhd)


Baca juga: