UM Kukuhkan Enam Guru Besar Sekaligus

Malang, SERU.co.id – Setelah kurun waktu 2021 menunda, Universitas Negeri Malang (UM) akhirnya mengukuhkan 6 (enam) guru besar sekaligus, Kamis (23/9/2021). Keenam Profesor tersebut berasal dari 3 (tiga) Fakultas, yakni Fakultas MIPA, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), dan Fakultas Sastra (FS).

Di antaranya Prof Dr Achmad Rasyad MPd (FIP); Prof Dr Lia Yuliati MPd (Fisika); Prof Dr H Abdur Rahman As’ari MPd MA (Matematika); Prof Dr Yusuf Hanafi MFilI (FS); Prof Dr Endang Purwaningsih MSi (Fisika); dan Prof Dr Parno MSi (Fisika).

“Syukur Alhamdulillah, keenam guru besar telah menorehkan keilmuannya bagaimana menciptakan manusia unggul di negeri ini. Senyampang Mendikbud-Ristek membuat IKU yang diterjemahkan dalam MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka),” ungkap Rektor UM Prof Dr H AH Rofi’uddin, MPd, dalam pidato sambutannya.

Menurut rektor yang menjabat dua periode ini, ada 3 (tiga) tugas utama UM, yakni meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan, menguatkan mutu dosen dan tenaga kependidikan, dan meningkatkan akses pendidikan.

Di antara 8 (delapan) hal tolak ukur IKU pendidikan perguruan tinggi, yaitu lulusan mendapatkan pekerjaan yang layak, mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus, dosen mendapatkan pengalaman di luar kampus, hasil kerja dosen dipergunakan masyarakat. Kemudian perguruan tinggi mendapatkan rekognisi, program studi mampu bekerjasama dengan mitra kelas dunia, level kelas-kelas perguruan tinggi, dan program studi yang terakreditasi International.

“Dosen dituntut berkontribusi untuk kemaslahatan umat. Dengan dikukuhkannya enam guru besar, artinya dimulainya karya gubes melalui produk-produk yang dapat digunakan untuk dunia usaha, dunia industri dan masyarakat. Mencetak mahasiswa yang pemikir dan produktif melalui karya,” imbuh Prof Rofi’, sapaan akrabnya.

Salah satu dari keenam Profesor tersebut, Prof Dr Yusuf Hanafi MFilI merupakan profesor termuda UM. Sekaligus guru besar UM pertama bidang Ilmu Agama Islam. Dengan mengusung judul: “Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berwawasan Moderasi Beragama untuk Mencetak Peserta Didik yang Toleran dan Multikultural.”

“Secara garis besar, implementasi moderasi beragama dapat dilaksanakan melalui tiga cara. Pertama, insersi muatan moderasi beragama dalam materi PAI; kedua, optimalisasi pendekatan pembelajaran melahirkan cara berpikir kritis, sikap menghargai perbedaan dan pendapatan orang lain, dan tindakan toleran. Ketiga, diskusi/halaqah secara rutin dan berkesinambungan,” urai Ustadz Yusuf, sapaan akrabnya.

Keenam guru besar usai dikukuhkan bersama jajaran Senat dan guru besar lainnya. (ist) - UM Kukuhkan Enam Guru Besar Sekaligus
Keenam guru besar usai dikukuhkan bersama jajaran Senat dan guru besar lainnya. (ist)

Sementara Prof Dr Endang Purwaningsih MSi menyampaikan, seorang guru profesional dituntut memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian. Dalam perkembangannya, keempat kompetensi tersebut perlu dioperasionalisasi berdasarkan landasan teoritik. Yaitu Pedagogical Conten Knowledge (PCK), Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dan identity theory.

“Sejak tahun 2015, saya mulai mengembangkan model pembelajaran Concept Mapping Content Representation-Lesson study (CoMCoRe-LS). Sebuah model pembelajaran untuk Kuliah Praktik Lapang (KPL) guna meningkatkan PCK calon guru, khususnya calon guru yang memiliki pemahaman konten yang masih kurang,” terang Prof Endang.

Sedangkan Prof Dr Abdur Rahman As’ari MPd MA menilai, siswa yang mandiri akan belajar dengan menyenangkan karena sesuai dengan minat dan bakatnya. Sementara itu, pelajar yang
memiliki kemampuan berpikir kritis, akan mampu memutuskan apakah informasi yang diterimanya layak dipercaya atau tidak.

“Untuk itu, perlunya para guru menerapkan pembelajaran yang berorientasi WISE (Wondering habits, Investigating skills, Synthesizing Skills dan Expressing skills). Yakni pembelajaran yang diarahkan untuk mencetak anak-anak yang bijaksana, memiliki wawasan yang luas baik dalam tutur kata dan tindakannya,” urai Prof Rahman As’ari. (rhd)


Baca juga: