UB Kukuhkan Prof Budi Sugiarto Waloeya dan Prof Sunaryo

Malang, SERU.co.id – Meski di masa pandemi covid-19, Universitas Brawijaya kembali mengukuhkan dua profesor baru, di gedung Widyaloka UB, Rabu (25/8/2021). Yaitu Prof Dr Ir Budi Sugiarto Waloeya MSP dan Prof Dr Sunaryo SSi MSi.

Pertama, Prof Dr Ir Budi Sugiarto Waloeya MSP, sebagai profesor bidang ilmu Infrastruktur Perkotaan. Sekaligus profesor ke-16 di Fakultas Teknik dan ke-196 profesor aktif UB, serta ke-283 dari seluruh profesor di UB.

Kedua, Prof Dr Sunaryo SSi MSi, sekaligus profesor bidang Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi SDA. Sekaligus profesor ke-25 di Fakultas MIPA dan ke-197 profesor aktif UB, serta ke-284 dari seluruh profesor di UB.

“Model tersebut bisa digunakan untuk mengetahui tingkat perkembangan tata guna lahan yang sudah berada di batas. Harus dikendalikan, karena menyebabkan pelayanan jalanan yang buruk,” seru Prof. Budi, saat memaparkan orasi tentang “Pengukuran Tingkat Pelayanan Jalan menggunakan Pendekatan Interaksi Model Tata Guna Lahan-Jaringan Jalan.”

Prosesi pengukuhan Prof Dr Ir Budi Sugiarto Waloeya MSP dan Prof Dr Sunaryo SSi MSi. (ist) - UB Kukuhkan Prof Budi Sugiarto Waloeya dan Prof Sunaryo
Prosesi pengukuhan Prof Dr Ir Budi Sugiarto Waloeya MSP dan Prof Dr Sunaryo SSi MSi. (ist)

Menurut Prof Budi, penggunaan jalan ini sangat masif di wilayah perkotaan. Namun sayangnya peningkatan infrastruktur termasuk jalan raya, tidak sebanding dengan pertambahan penduduk, sehingga menimbulkan permasalahan.

“Kemacetan kerap kali muncul di wilayah perkotaan. Titik kemacetan ini terutama di ruas jalan-jalan utama penghubung antar kota,” imbuhnya.

Sebagai contoh, Prof Budi melakukan studi kasus di koridor Jalan Surabaya (Waru)-Sidoarjo, jalan nasional yang menghubungkan Jalan Waru Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo sepanjang 29 km. Menggunakan metode Interaksi Model Tata Guna Lahan-Jaringan Jalan, dengan software Borland Delphi 7 dan Microsoft Access 2010. Perhitungan Tingkat Pelayanan Koridor Jalan Surabaya (Waru)-Sidoarjo menunjukkan dari rentang pukul 8-9 pagi sampai dengan 6-7 malam, tingkat pelayanan jalan nilainya F.

“Artinya koridor jalan dalam keadaan macet atau terjadi antrian panjang yang memperlambat laju kendaraan bermotor. Tingkat pelayanan jalan yang buruk mestinya menjadikan titik tolak pemerintah daerah, untuk mengambil kebijakan pengendalian pemanfaatan tata ruang. Dengan mengadakan pembatasan pengembangan untuk Zona Kawasan Perdagangan dan Jasa,” beber Prof Budi.

Sementara untuk Zona Pengembangan Kawasan Industri, khususnya pada koridor jalan  mengalami tingkat pelayanan yang buruk atau sering terjadi kemacetan. Kebijakan pengendalian pemanfaatan ruang yang lebih spesifik adalah pelarangan, khususnya Kawasan Perdagangan & Jasa skala besar, misalnya Hiper Market, Plaza, Mall, dan lainnya.

“Untuk skala menengah dan kecil masih bisa dikembangkan. Selain mengetahui tingkat pelayanan jalan Interaksi Model Tata Guna Lahan- Jaringan Jalan, dapat dipakai untuk mengetahui waktu tempuh perjalanan (travel time) pada ruas koridor jalan tertentu,” tandasnya.

Sementara itu, Prof Dr Sunaryo, SSi, MSi (FMIPA) menyampaikan pemaparan tentang Peranan Ilmu Geofisika Dalam Mitigasi Bencana Alam. Menurutnya, Ilmu Geofisika merupakan alat untuk mengetahui informasi bawah permukaan bumi. Sehingga memegang peranan penting dalam pemecahan masalah kebencanaan, lingkungan dan eksplorasi.

“Ilmu Geofisika ini layaknya ultra sono grafi (USG) bagi profesi seorang dokter. Karena sejatinya ilmu ini mengetahui kondisi bawah permukaan dengan bumi melalui pengukuran di permukaan bumi dengan menerapkan kaidah-kaidah ilmu Fisika,” seru Prof Sunaryo.

Menurutnya, penggunaan ilmu geofisika pada kebencanaan bisa dilakukan mulai upaya mitigasi pra bencana. Sayangnya di negeri kita, penanganan bencana masih banyak dilakukan pada tahapan tanggap darurat dan rehabilitasi (paska bencana).

“Di sinilah peluang pengembangan ilmu geofisika. Upaya optimalisasi teknologi menggali infomasi bawah permukaan bumi untuk mengetahui penyebab bencana geologi perlu dilakukan. Sehingga bisa dilakukan rekayasa sebagai upaya mitigasinya,” imbuh Prof Sunaryo.

Pemetaan atau zonasi wilayah dari informasi permukaan bawah bumi bisa digunakan sebagai alat mitigasi. Untuk mereduksi dampak atau mencegah terjadinya bencana alam tersebut, yakni longsor, gempa bumi dan kekeringan.

“Ada tiga studi kasus penggunaan ilmu geofisika di tiga kasus bencana yang pernah terjadi,” ucapnya.

Salah satu contohnya, yakni penggunaan ilmu geofisika pada kasus longsor di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Akuisisi data dilakukan pada 60 titik data yang tersebar di area Dusun Brau seluas sekitar 39 Ha.

“Setelah dilakukan pengolahan dan interpretasi, diperoleh rekomendasi sebagai upaya mitigasi bencana. Yakni pada bidang longsor stabil digunakan sebagai penampungan penduduk,” urainya.

Sedangkan di bidang relokasi tidak stabil dapat dilakukan rekayasa. Yakni mengurangi kelebihan ketebalan beban batuan, membuat bangunan sipil berbentuk tembok penahan dan melakukan eco-engineering melalui penanaman vegetasi yang berakar.

“Pola ini secara alamiah pada bukit atau tebing yang ditumbuhi oleh banyak pohon dengan akar yang kuat. Maka Pemda setempat harus secara ketat melarang penebangan pohon, agar potensi bencana alam longsor minim,” tandasnya. (rhd)


Baca juga: