Temukan Beragam Penelitian, Siswa-siswi MTsN 1 Boyong 3 Medali Silver Dari Malaysia

• Dalam ajang International Invention and Innovative Competition (InIIC) Series 2

Kota Malang, SERU – Menginjak pertengahan bulan November, capaian prestasi internasional Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Malang semakin meningkat. Terakhir, tercatat 97 prestasi internasional, selain ratusan prestasi level Malang Raya hingga Nasional.

Salah satunya, dicatatkan oleh 6 siswa-siswi MTsN 1 dalam ajang International Invention and Innovative Competition (InIIC) Series 2, di Selangor, Malaysia, 1-3 November 2019 lalu, sebagai catatan awal prestasi di bulan November 2019. Mereka terbagi dalam 3 tim, dimana masing-masing tim menyumbangkan 1 medali silver, sehingga terkumpul 3 medali silver sebagai buah tangan dari ajang InIIC.

Penghargaan ini didapat sebelum beberapa siswa berlaga di Tournament of Champion (ToC) 2019, di Yale University, Amerika Serikat, 8-17 Nopember 2019 lalu. “Tentunya prestasi-prestasi ini sangat bergengsi karena berhasil di level internasional. Bahkan tim guru dan siswa juga harus ekstra, karena juga ada beberapa level Malang Raya hingga nasional. Dan beberapa diantaranya berhasil memboyong prestasi,” jelas Kepala MTSN 1 Malang, Drs Samsudin MPd, kepada SERU.co.id, di ruang kerjanya.

Karena banyaknya, Samsudin tak bisa memastikan berapa jumlah detail dan total catatan prestasi yang diperoleh MTsN 1 Kota Malang. Seperti kejuaraan dunia taekwondo di Bali, robotik madrasah, dan beberapa kejuaraan lainnya.

“Sebenarnya banyak prestasi yang baru saja diraih, namun itu belum semuanya terangkum dalam database kami. Yang menjadi tantangan ke depan adalah bagaimana terus mempertahankan prestasi internasional, dan menambahkan prestasi lainnya,” tandas Sam, sapaan akrabnya.

Tim memberikan penjelasan kepada dewan juri. (ist)

Dalam ajang International Invention and Innovative Competition (InIIC) Series 2, ketiga tim mempresentasikan temuannya dalam bentuk poster untuk dijelaskan langsung kepada dewan juri. Metodenya hampir sama dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Hanya saja mereka mengambil kategori siswa, dimana mereka juga melawan siswa SMA/SMK.

Baca juga:   Serikat Guru Tolak UU Cipta Kerja

Tim 1 beranggotakan Rizqina Faizana dan Dania Wijayanti, dibawah bimbingan Lailatul Chusniah, SPd, dan Annestiana Handini, SPd, dengan mengusung LOGAN RICE (Low Glycemic and High Nutrition Analog Rice), berhasil menorehkan 1 medali silver.

“Logan Rice adalah inovasi beras analog bernutrisi dan rendah Glikemik berbasis ganyong, bayam, dan tiwul sebagai diversifikasi pangan di Indonesia. Keunggulannya, lebih kaya serat dan mengenyangkan, karena berbahan baku ganyong, bayam, tiwul dan ampas kelapa,” beber Rizqina, sembari menambahkan, sebelumnya Logan Rice sempat meraih juara 3 Inotek 2018 tingkat Kota Malang.

Sementara tim 2 beranggotakan Ian Prayata Argyan Whiramukti dan Hilmiy Maulana Hibatullah, dibawah bimbingan Teguh Dewangga, SPd, dengan mengusung De-Toxcar (Detector of Toxic Gas and Temperature for Car), juga berhasil menorehkan 1 medali silver.

“Konsep kerja De-Toxcar, ketika suhu dalam mobil meningkat, maka sensor gerak dan temperatur akan bekerja otomatis menurunkan jendela, menyalakan alarm dan lampu hazard, serta mengirimkan sinyal ke nomor emergency. Bisa bekerja saat mesin mati atau menyala,” jelas Ian.

Salah satu poster temuan siswa-siswi MTsN 1 Kota Malang. (ist)

Artinya, lanjut Hilmiy, ketika suhu tinggi hingga 32 derajat Celsius dan ada gerakan di dalam mobil atau ada orang, maka sensor gerak menurunkan jendela, menyalakan alarm dan lampu hazard. Namun jika tak ada orang, maka sensor temperatur hanya mengirimkan sinyal ke nomor emergency. Tidak sampai menurunkan jendela demi keamanan kendaraan.

Sedangkan tim 3 beranggotakan Thoriq Ahmad Izzuddin, Zaidan Illynas Cahaya Nasir, dan Pasha Halabi Ikhsanal Haq, dibawah bimbingan Linda Novitasari, ST, mengusung ECO-FIBEL (Edible Coating for Fruits and Vegetables), berhasil menorehkan 1 medali silver.

“Gunanya untuk memperpanjang masa simpan buah dan sayuran tanpa masuk ke lemari pendingin. Bisa awet hingga 1 bulan di suhu ruang. Bahannya alami dari air kelapa dan ekstrak serai. Cara kerjanya cukup dicelupkan atau disemprotkan, tergantung bentuk buah atau sayuran,” terang Zaidan.

Baca juga:   FISIP UB Edukasi Siswa TK Cuci Tangan, Jaga Kebersihan dan Kesehatan di Masa Pandemi

Sementara itu, salah satu guru pembimbing, Lailatul Chusniah, SPd, mengatakan, beberapa karya tersebut beberapa kali menang dalam beberapa ajang tingkat Malang Raya hingga nasional dengan beberapa kali peningkatan atau perbaikan. “Beberapa kali menang, dan ternyata kami bisa berhasil di level internasional di ajang InIIC ini,” terang Laely, sapaan akrabnya. (rhd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *