Sikapi Inflasi, Pemkot Malang akan Kolaborasi dengan Sejumlah Daerah di Jatim

Malang, SERU.co.id – Wali Kota Malang Drs H Sutiaji mengungkapkan, pihaknya optimis bisa menghadapi gejolak inflasi di Kota Malang, diantaranya dengan menjalin kerjasama atau kolaborasi antar daerah. Seperti yang diketahui, tingkat inflasi bulan Juli 2022 di Kota Malang yaitu sebesar 0,76 persen lebih besar dari bulan sebelumnya yaitu 0,61 persen.

Di Jawa Timur sendiri, Kota Malang berada di posisi kedua setelah Kabupaten Sumenep sebesar 1,04 persen. Sedangkan daerah yang tingkat inflasinya terendah yaitu Kota Probolinggo, sebesar 0,52 persen.

“Kota Malang ini terbesar kedua setelah Sumenep, kita di angka hampir 0,9 persen tapi masih di bawah. Saya minta, berkaitan dengan masalah inflasi ini, karena penentuannya secara nasional, indikatornya kita bergejolak itu gara-gara harga tiket pesawat, jadi ini yang berpengaruh,” seru Wali Kota Malang tersebut usai menghadiri Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan di Grand Mercure Kota Malang, Rabu (10/8/2022).

Berdasarkan arahan dari forum tersebut, dimana setiap Pemerintah Daerah untuk melakukan operasi pasar. Hal tersebut dilakukan bertujuan untuk meninjau ketersediaan bahan baku dan keterjangkauan harga di pasaran. Namun hal itu dikatakan oleh Sutiaji, masih terkendala dengan dana operasi.

“Tapi dananya darimana, kalau dari Belanja Tidak Terduga (BTT) minta dana apa boleh, ini kan lagi minta karena tidak bisa tiba-tiba pakai dana BTT,” tutur Sutiaji.

Kendati demikian, orang nomor satu di lingkungan Pemkot Malang tersebut akan menjalin kolaborasi antar daerah untuk pengendalian inflasi pangan. Dimana saat ini, pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan berbagai daerah di Jawa Timur.

“Untuk kerjasama, salah satunya kami dengan Blitar dan Banyuwangi. Blitar yang surplus daging ayam dan telur, tentu itu nanti yang bisa kita ambil di sini, kemudian di Banyuwangi terkait padi,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Pemkot Malang juga akan menjalin kerjasama dengan beberapa daerah lainnya. Seperti Kabupaten Lamongan, yang menurutnya merupakan daerah dengan potensial produksi jagung.

“Masalah jagung nanti kami ngambil di Lamongan, kita keringkan di sini jadikan pakan ayam lalu kirim ke Blitar. Lalu ayam dan telur kita di sana, di Blitar, karena ini sifatnya juga fluktuatif,” tutur Sutiaji.

Untuk komoditas lainnya, seperti cabai, bawang merah, bawang putih dan bahan lainnya, akan bekerjasama dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang. (bim/ono)

Sorry, you cant copy SERU.co.id!