Sajikan Kopi Berkelas di Atas Sepeda, Himung Kopi Kenalkan Kopi Nusantara

Malang, SERU.co.id – Konsep unik yang diusung Himung Kopi, memang berbeda dengan kebanyakan kedai kopi atau kafe. Dengan sepeda MTB warna kuning, Andi Destanto (36), menyajikan kopi penjuru Nusantara dari atas sepedanya di trotoar ujung gang 5 Mergosono, atau jalan Kolonel Sugiono, Kota Malang.

Mengusung berbagai jenis kopi terkenal dari Nusantara, seperti kopi Aceh Gayo, kopi Toraja, kopi Bali Kintamani, kopi Papua Wamena, kopi Flores Bajawa, kopi Liberika Meranti Riau, kopi Temanggung, kopi Ijen Raung dan beragam kopi Malangan, seperti kopi Arjuno, kopi Gunung Kawi, kopi Dampit, Sumbermanjing, dan lainnya.

“Motivasi saya adalah untuk mengenalkan beragam kopi Nusantara dan kopi lokal Malangan kepada semua kalangan. Terutama kalangan menengah ke bawah yang jarang mencicipi kopi di kafe. Lengkap dengan model racikan, seperti V60, Vietnam drip, hingga kopi tubruk,” ungkap Andi, warga Mergosono gang 5D.

Andi Destanto dengan kedai sepeda Himung Kopi
Andi Destanto dengan kedai sepeda Himung Kopi. (rhd)

Meski kopi yang ditawarkan berkelas Nusantara, jika di kafe atau lounge nilainya puluhan ribu rupiah, namun Andi hanya membanderol di kisaran harga Rp 5-9 ribu saja per cup, baik panas atau dingin. Menyesuaikan kalangan pelanggannya.

“Selain penikmat yang paham kopi, sebagian besar pelanggan saya itu tukang becak, tukang sampah, pedagang kaki lima, dan lainnya. Awalnya mereka tahunya kopi tubruk dan sachet. Perlahan saya edukasi. Sekarang kalau pesan, mas V60, vietnam drip. Kan keren tuh,” ucap bangga pria kelahiran Malang, 26 Desember 1983 ini.

Andi mengaku, awalnya bukan penggemar kopi. Dirinya minder lantaran bukan orang berada, merogoh kocek hanya untuk menikmati kopi di kafe. Dirinya tertarik karena ajakan beberapa rekannya untuk mengenal ragam kopi dan penyajiannya selama 2 tahun. Andi pun memberanikan diri membuka Himung Kopi pada Maret 2019.

Baca juga:   Taqy Malik Menikah Lagi dengan Serell Thalib

“Dulu saya tahunya kopi bubuk dicampur gula, kemudian diseduh air panas. Tapi kemudian teman saya bilang, bikin kopi itu harus ditimbang dan suhunya harus diukur. Rasanya juga tidak sekadar pahit, tapi ada juga yang asam,” tuturnya, ditemui SERU.co.id di rumahnya.

Menurutnya, cara meracik dan penyajian setiap jenis kopi berbeda-beda sesuai karakter masing-masing kopi. Secara umum, penuangan air panas tak boleh langsung segelas penuh. Namun dituangkan sedikit diatas permukaan adonan kopi dan didiamkan 30 detik (proses bluming) untuk mengangkat gas CO2 dari bubuk kopi, supaya tidak bikin kembung.

“Setelah proses bluming, baru tuangkan air memutar di dinding gelas agar panasnya merata. Tergantung selera, mau dikasih gula atau tidak. Meski sebenarnya semua ada takarannya,” ucapnya.

Antrian pembeli menikmati kopi street Himung Kopi
Antrian pembeli menikmati kopi street Himung Kopi. (rhd)

Sengaja dirinya menjajakan di pinggir jalan dengan harga kaki lima. Pengakuannya, sudah untung dengan harga tersebut. Sebab tak perlu sewa stand, bayar pegawai, dan lainnya.

“Misi saya merangkul kalangan bawah agar bisa menikmati kopi kafe. Kopi jadi pemersatu bangsa tanpa memandang derajat. Seperti yang pernah saya alami,” tutur ayah dari Yumna Fatimah Althafunnisa (4), buah hatinya dengan Eka Rahmania Purnama.

Sayangnya, Andik belum bisa berkomitmen membuka kedainya setiap hari dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Lantaran, dirinya masih bekerja shif sebagai satpam di salah satu perusahaan rokok. Ia mengaku berdagang pagi usai bekerja shift malam, kemudian istirahat siang, dan malam kembali bekerja.

Meracik kopi di kedai rumahnya.
Meracik kopi di kedai rumahnya. (rhd)

“Karena kerja shift, jadi jadwalnya tidak pasti buka. Biasanya saya buka itu hari Selasa, Sabtu dan Minggu,” ucapnya, sembari mengaku omzet selama pandemi justru naik di kisaran 50-70 cup atau Rp 400 – 500 ribu per hari.

Baca juga:   Wisata Kali Cemplong, Tempat Kongkow Mainstream Bantaran Sungai - Bambu di Jalur Gaza

Andi bercita-cita mengusung Himung Kopi, sebagai identitas kopi street. Dengan konsep kopi mewah, harga kaki lima. Nantinya, Andi bakal merangkul pemuda sekitar rumahnya untuk keliling menjajakan kopi di Malang Raya.

“Kayak orang jual bakso keliling kan ada bosnya. Saya ingin membuat armada, ntah itu pakai sepeda atau rombong. Saya siapkan semua, nanti teman-teman kampung tinggal berkeliling menjual kopi nusantara ini,” tutupnya. (rhd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *