Remaja dan Attitude

Oleh: Moh. Andi Abdillah, S.Pd.i

Dari segi usia manusia tumbuh dan berkembang dalam tiga tingkatan. Pertama, tingkat kanak-kanak, kedua tingkat remaja dan ketiga, tingkat orang tua.dengan demikian remaja merupakan sosok manusia yang berada dalam tingkat pertumbuhan kedua bagi tingkat pertumbuhan manusia. Predikat remaja biasa disandangkan bagi seseorang yang berusia antara 13 tahun hingga 22 tahun, di mana masa usia tersebut merupakan masa perubahan, baik fisik maupun psikis.

Gejolak psikologis bagi usia remaja tersebut begitu mewarnai kepribadiannya yang nampak dalam perilaku dan kondisi mentalnya. Karakteristik yang umum dari kondisi mental pada seorang remaja adalah kesadaran. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan, baik fisik maupun psikis. Misalnya pengendalian frustasi dan konflik, serta pengendalian pikiran dan tingkah laku. Krisis masa remaja mencapai puncaknya kira-kira pada usia 17 tahun.

Salah satu krisis yang menghinggapi remaja pada umumnya ialah mengenai tentang persoalan attitude. Padahal sejatinya hal satu ini merupakan poin penting yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap orang, terlebih ketika nantinya para remaja tersebut terjun bermasyarakat dan masuk ke dalam kehidupan professional.

Banyak yang merasakan akhir-akhir ini mulai lunturnya kultur sopan santun atau attitude pada diri remaja atau para siswa. Hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian khusus sebab yang paling penting adalah menumbuhkan nilai kesantunan, tata krama, karena dalam sekian tahun kita kehilangan nilai-nilai itu. Mulai berkurangnya kebiasaan bertutur kata yang baik dan sopan. Karena nilai-nilai Indonesia adalah keramahan bukan nilai-nilai yang saling melotot dan mencemooh.

Dengan adanya perkembangan jaman saat ini banyak anak-anak yang menganggap suatu hal yang wajar atau biasa mengenai sikap tidak sopannya terhadap teman sebaya, orang yang lebih tua seperti orang tua atau guru. Faktor lain juga yang bisa menyebabkan hal tersebut adalah anak remaja yang banyak dimanja yang kemudian membuat mereka dengan mudah dan gampangnya melakukan pelanggaran atau tata tertib di sekolah.

Jika hal seperti bad attutude nantinya akan di pandang sebagai sebuah kewajaran atau hal yang biasa maka akan membawa dampak yang dapat menyebabkan hilangnya kultur yang dimiliki oleh bangsa ini. Berangkat dari hal kecil seperti ini dapat berdampak dan bahkan dapat menjadi boomerang di kemudian hari jika tidak bisa diatasi sejak dini.

Sebagai contoh untuk saat ini saja sudah sering kita jumpai mengenai merosotnya tingkat good attitude remaja saat ini. Contoh tersebut membuat nurani kita merasa teriris jika mendengar atau melihat suatu peristiwa yang mana terdapat seorang anak atau murid yang sampai tega dan berani membantah serta melawan orang tua maupun gurunya jika tak sesuai dengan inginnya padahal notabenenya hal tersebut semata-mata demi kebaikan anak remaja itu sendiri.  

Oleh karena itu penting untuk diri kita yang telah menjadi orang tua dan menjadi seorang guru memberi suri tauladan dan menamkan kepada anak remaja terkait pentingnya memiliki good attitude dan tidak memandang sebuah bad attitude sebagai tindakan yang wajar dan keren.

Dalam kondisi sekarang ini terdapat sebuah faktor eksternal yang jika diamati secara realita kebudayaan yang terus berubah-ubah disebabkan maraknya dan mudahnya akses masuk budaya barat yang sulit untuk dibendung dan mudah diterima oleh anak remaja saat ini yang dari hal tersebut dapat menyebabkan sulitnya untuk mempertahankan nilai ketimuran dan nilai luhur negeri ini seperti sopan santun yang seharusnya di aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari kepada siapapun, dimanapun dan kapanpun.  

Selain dari faktor eksternal seperti yang dijelaskan diatas terdapat juga faktor internal yang dapat mempengaruhi lunturnya good attitude pada diri siswa kita. Faktor tersebut bisa kita telaah pada diri siswa itu sendiri, keluarganya, lingkungannya, circle of friend, maupun sosial media. Dalam hal ini juga pengetahuan sopan santun atau good attitude memang kurang di dapatkan dari orang tua serta acuhnya siswa pada pembelajaran ketika di kelas yang menjadikan mereka minim pengetahuan tentang nilai-nilai luhur tersebut yang justru dari hal tersebut dapat memicu lunturnya nilai budaya sopan santun di negeri ini.

Dalam situasi dan kondisi yang seperti ini memang sudah seharusnya terjadi sinergi antara sekolah dalam hal ini guru dan orang tua. Di dalam lingkungan sekolah sudah pasti siswa tidak hanya mendapatkan asupan dari sisi kognitif (pengetahuan) tapi mereka juga akan mendapatkan pendidikan sikap dari bapak atau ibu guru. Oleh karena itu seorang anak yang merupakan sebuah aset berharga dari orang tuanya sudah seyogyanya orang tua juga menyadari akan pentingnya membentuk pribadi sang anak ketika berada di lingkungan keluarga. Jangan sampai demi membahagiakan anak dengan mencukupi apa yang mereka inginkan lantas mengesampingkan pentingnya menanamkan nilai-nilai luhur tersebut. Memang mengajarkan dan menanamkan nilai tersebut tidak bisa hanya dilakukan dalam satu hari atau satu malam saja, namun harus melalui proses demi proses yang goal dari pengajaran dan penanaman tersebut dapat menghasilkan penerus bangsa yang paham akan budaya, tatakrama, dan sopan santun.

Di lain sisi pula pendidikan karakter yang terdapat di sekolah juga dapat dijadikan sebagai wadah dalam pembentukan karakter siswa sesuai dengan yang diharapkan. Sebab pendidikan karakter juga dikaitkan kepada pendidikan akhlak mulia, pendidikan moral, serta dapat membantu dalam membangun nilai-nilai kesopanan pada diri remaja. Melalui wadah yang dinamakan dengan pendidikan karakter tersebut diharapkan dapat menjadikan para remaja yang menjadi siswa kita terutama mampu mengamalkan good attitude terhadap orang tua, guru, maupun orang yang lebih tua dari mereka.

Selain itu dalam ruang lingkup pembelajaran di sekolah sebenarnya juga ada sarana yang bisa menjadikan para remaja tersebut untuk mengerti sopan santun atau dalam bahasa jawanya disebut dengan unggah ungguh yakni Pendidikan Bahasa Jawa. Dalam pembelajaran tersebut memanglah memuat tentang pengajaran bagaimana cara bertutur kata yang baik serta kebudayaan jawa yang bersambung dengan nilai budi pekerti dan kepribadian. Selain itu juga terdapat praktik dalam pembelajaran tersebut yang nantinya dapat diterapkan oleh siswa setiap harinya dan dapat menjadi solusi untuk terus melestarikan nilai-nilai luhur orang Indonesia.


Baca juga: