Prihatin Maraknya Kasus KDRT, Universitas Kristen Maranatha Berikan Psikoedukasi di Batu

Batu, SERU.co.id – Menjalani kehidupan berkeluarga yang harmonis, damai dan bahagia merupakan salah satu impian keluarga di Indonesia. Sayangnya, sering juga ditemui dalam kenyataannya kasus-kasus rumah tangga yang menggambarkan ketidakharmonisan keluarga seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, perceraian, juga pernikahan dini. Kejadian ini terus berulang sehingga menjadi sebuah pola lingkaran hitam.

Prihatin terhadap permasalahan tersebut, Mahasiswa Magister Sains 2021, Universitas Kristen Maranatha tergerak untuk memberikan  pencerahan bagi masyarakat. Salah satu Mahasiswa Magister Sains 2021, Jillye Ivonne kepada SERU.co.id mengatakan, masyarakat membutuhkan kesadaran dan pengetahuan yang cukup agar dapat keluar dari permasalahan-permasalahan tersebut. Pihaknya melakukan Psikoeduasi, diantaranya kepada kepada warga Desa Beji yang berlangsung di Balai Rw.06, Desa Beji,  Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sabtu (19/11/2022).

“Masyarakat memerlukan edukasi agar memiliki pengetahuan tentang bagaimana membangun keluarga, serta bagaimana agar bisa berfungsi secara optimal di dalam keluarga,” serunya.

Jillye, sapaan akrabnya menjelaskan, dengan pemberian Psikoedukasi kepada masyarakat, diharapkan dapat berguna untuk mencegah dan menghadapi ketidaksiapan dalam membangun pernikahan dan membentuk keluarga. Psikoedukasi yang diberikan mahasiswa Universitas Kristen Maranatha ini bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Kota Batu. Materi yang diberikan antara lain tentang keberfungsian keluarga, parenting, dan resiliensi keluarga dengan tujuan agar masyarakat di desa tersebut mengetahui pola pengasuhan dengan keberpihakan kepada anak.

“Tentunya bagaimana mengoptimalkan peran dan fungsi di dalam keluarga dengan tepat. Itu yang kami coba tekanan,” ungkapnya.

Jillye menambahkan, dengan diadakannya kegiatan ini, besar harapan para Mahasiswa Universitas kristen Maranatha ini untuk dapat menambah wawasan dan pengetahuan, serta menumbuhkan kesadaran pada masyarakat dalam membentuk keluarga. Sebab, diperlukan sebuah kesiapan serta tanggung jawab di dalam merawat keluarga, termasuk di dalamnya proses pengasuhan kepada anak-anak. Program psikoedukasi ini akan terus diselenggarakan di berbagai tempat yang lain.

“Kami berharap Psikoedukasi seperti ini bisa merata di semua tempat, agar angka kasus-kasus rumah tangga bisa berkurang,” pungkasnya. (dik/mzm)


Baca juga:

Sorry, you cant copy SERU.co.id!