PERTAHANAN MENTAL REMAJA SAAT PANDEMI COVID-19

Penulis : Alyza Tsabita Khaeruddin
Universitas muhammadiyah malang
Fakultas Sosial dan ilmu politik
Jurusan : Ilmu Komunikasi

Silih berganti tahun namun pandemi virus Covid-19 belum juga pergi dari jagat bumi ini. Sudah banyak hal yang harus dikorbankan untuk dapat bertahan dan terus menyesuaikan diri dengan situasi yang baru dan berbeda dari situasi sebelum datangnya pandemi. Tidak dapat dipungkiri bahwa seluruh aspek kehidupan mengalami imbas dari hadirnya pandemi yang mulai muncul pada akhir tahun 2019. Aspek ekonomi, aspek kesehatan, aspek sosial, aspek budaya, dan aspek emosional mengalami banyak perubahan selama hadirnya pandemi Covid19. Tidak terkecuali dengan aspek mental, khususnya mental remaja.

Remaja adalah masa kehidupan yang menjadi proses peralihan individu dari masa kanakkanak menuju masa dewasa. Selama proses peralihan tersebut, terjadilah banyak perubahan didalam diri individu yang meliputi perubahan fisik, biologis, kognitif, dan juga sosial emosionalnya. Masa ini juga menjadi periode penting yang ada didalam hidup manusia karena akan terjadi perkembangan-perkembangan mental yang penting dan pesat sehingga akan sangat wajar jika pada masa remaja individu akan menunjukkan aktivitas sehari-hari yang padat karena banyaknya minat yang timbul didalam dirinya.

Adanya pandemi Covid-19 ini membatasi aktivitas sehari-hari untuk dilakukani oleh setiap individu. Aktivitas sehari-hari tidak dapat dilakukan secara leluasa seperti halnya melakukan aktivitas sebelum pandemi terjadi. Hal ini berakibat pada pengurangan tingkat produktivitas individu dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya.

Sebagaimana yang diketahui bahwa remaja menyukai aktivitas yang padat di setiap harinya, merebaknya pandemi Covid-19 pasti menyebabkan ketidaknyamanan pada remaja. Situasi yang membuat remaja tidak nyaman ini umumnya akan membuat remaja merasa cemas dan stres.

Umumnya, hal yang menyebabkan munculnya kecemasan dan stres pada remaja di masa pandemi Covid-19 ini berasal dari kekhawatiran untuk menghadapi pembelajaran dimana tidak ada pertemuan tatap muka yang menyebabkan adanya rasa khawatir akan tidak bisanya memahami materi secara efektif seperti halnya saat pertemuan tatap muka, kekhawatiran karena tugas yang diberikan terlalu banyak, dan tidak bisanya melakukan sosialisasi secara langsung dengan teman-teman sebayanya. Terlebih lagi jika remaja tinggal di daerah yang memiliki koneksi sinyal yang buruk. Hal ini tentu akan menimbulkan stres karena aktivitas pembelajaran daring sepenuhnya mengandalkan kekuatan akses internet. Proses pembelajaran daring yang terkesan monoton dan membosankan juga dapat mengakibatkan remaja mengalami frustrasi. Stres yang memiliki kaitan dengan dunia pendidikan dan pembelajaran ini dikatakan sebagai stres akademik. Stres akademik merupakan respons yang muncul sebagai akibat banyaknya tuntutan dan tugas yang diberikan oleh pihak sekolah. Stres akademik muncul karena adanya ketidaksesuaian antara tuntutan yang datang dari lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki oleh remaja.

Selain permasalahan pada aspek pendidikan, hal yang juga paling dirasakan berbeda dan menimbulkan kekhawatiran adalah aspek sosial. Aspek sosial yang dimaksud adalah interaksi remaja dengan teman sebaya. Adanya kebijakan pembatasan sosial yang di keluarkan oleh pemerintah sebagai cara pencegahan virus Covid-19 menjadi faktor penyumbang terjadinya kecemasan dan stres pada remaja. Remaja yang terbiasa dengan aktivitas padat yang melibatkan interaksi sosial dengan teman sebayanya akan mengalami kecemasan jika tidak melakukan interaksi dan aktivitas yang padat setiap harinya.

Hal-hal yang membuat kesehatan mental remaja terganggung tidak boleh terus dibiarkan. Untuk itu, perlu adanya peran dari semua pihak untuk memastikan remaja ada di dalam kondisi mental yang stabil dan tidak mengalami kecemasan ataupun stres selama pandemi ini terjadi. Sebagai orang yang paling dekat dan memiliki akses termudah dengan anak remajanya, keluarga berperan sangat besar untuk tetap mempertahankan kesehatan mental remaja dengan cara mencipatakan suasana rumah yang aman, nyaman, dan menyenangkan selama remaja ada di rumah agar remaja tidak mengalami kebosanan karena harus menjalankan aktivitasnya dirumah, menjalin komunikasi yang interaktif antar anggota keluarga agar remaja dapat secara terbuka membicarakan keadaan diri dan apa yang mereka rasakan, serta memberikan pengasuhan yang sehat, yaitu tidak mengekang namun juga tidak membiarkan remaja melakukan hal apapun tanpa batas.

Untuk mengatasi kecemasan dan stres, remaja tidak bisa sepenuhnya bergantung pada keluarga dan keadaan lingkungannya karena tidak seluruh keluarga dan lingkungan memiliki andil yang positif dalam membangun kesehatan mental yang baik bagi remaja. Remaja harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengatasi rasa kecemasan dan stres yang muncul pada dirinya. Dengan memahami konsep dari rasa cemas dan stres, maka remaja akan memiliki kendali untuk mengontrol dirinya. Hal ini disebut dengan coping stres yang merupakan cara yang dilakukan oleh individu untuk mengelola tuntutan-tuntutan yang dimilikinya dengan sumber daya dan kemampuan diri yang nereka miliki. Dengan cara yang sederhana, remaja bisa melakukan coping stres dengan mengenali dirinya sendiri yang menyangkut hal-hal yang menjadi kelebihan dan kelemahan pada dirinya. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya, maka akan sangat memungkinkan individu mengetahui cara untuk meringankan kecemasan dan stres yang dihadapi. Cara yang kedua yang dapat dilakukan oleh seorang remaja yaitu dengan peduli terhadap diri sendiri. Peduli yang dimaksud adalah mulai melakukan pola hidup yang sehat, tidak selalu mengurung diri di kamar, bersosialisasi dengan keluarga, melakukan kegiatan yang realistis yang dapat dilakukan di sekitar tempat tinggal, dan menjalankan hobi. Dan cara yang terakhir adalah dengan memperhatikan keseimbangan aspek-aspek dalam hidup. Setiap aspek dalam hidup yang berupa aspek fisik, aspek intelektual, aspek mental emosional, aspek rekreasional, serta aspek spiritual harus dapat terpenuhi dengan baik dan seimbang. Keseimbangan antar aspek tersebut juga dapat berperan sebagai cara untuk mengatasi kecemasan dan stres pada remaja.

Sorry, you cant copy SERU.co.id!