Pentingnya Jurnalisme Data di Era Digital dalam Perangi Hoaks

Malang, SERU.co.id – Di era teknologi digital, perkembangan informasi tak hanya mengandalkan media mainstream. Media sosial telah turut ambil bagian yang tak kalah cepat dalam menyuguhkan informasi. Sayangnya adu kecepatan ini justru dimanfaatkan sebagian orang atau pihak, hingga menjadikan informasi tersebut menjadi misinformasi dan disinformasi.

Disinilah peran media mainstream untuk membangun kepercayaan netizen akan sebuah akurasi data maupun kredibilitas sebuah media mainstream. Melalui verifikasi dan konfirmasi berbasis data, laiknya kode etik jurnalistik dalam menyuguhkan informasi yang terpercaya dan akurat.

“Jurnalisme data bukanlah hal baru dalam dunia jurnalistik. Bahkan, jurnalisme data sudah ada sejak 1858 saat seorang perawat pada perang Inggris di Krimea, dulu Uni Soviet sekarang Ukraina merilis data jumlah kematian dalam perang,” seru Atmaji Sapto Anggoro, CEO PT Binokular Media Utama.

Sapto juga dikenal sebagai mantan CEO Tirto.id serta pendiri detik.com dan merdeka.com yang menjadi portal media online terkemuka di Indonesia. Sapto menjelaskan, jurnalisme data bukanlah hal baru dalam dunia jurnalistik. Dengan perkembangan dunia digital saat ini, jurnalisme data masih menjadi hal penting.

“Saat ini banyak sekali informasi hoaks, missinformasi dan disinformasi melalui media sosial. Peran jurnalisme data ini sangat penting untuk bisa meng-counter informasi yang salah itu,” urai Sapto, dalam Workshop Jurnalisme Data di Era Digital yang digelar PJT I, Jumat (16/7/2021).

img 20210718 wa0057
Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan. (rhd)

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah jurnalis dari wilayah sungai Brantas, Bengawan Solo dan Toba Asahan yang dalam Forum Jurnalis Peduli Sungai (FJPS) menanyakan beberapa hal. Seperti sulitnya mencari data yang akurat, berkembangnya media sosial menjadi tantangan bagi para jurnalis di tengah banyaknya informasi yang beredar di masyarakat.

Baca juga:   PPKM Darurat Diperpanjang Hingga 25 Juli 2021

Sapto menjelaskan, di dalam jurnalisme data, kecepatan tidak menjadi hal penting, karena akurasi data yang tepat menjadikan berita menjadi lebih kredibel.

“Yang dicari orang saat ini adalah kebenaran. Namun kebenaran tidak tunggal, tapi bisa diadu fakta dan datanya. Cilaka buat seorang jurnalis jika tidak menyampaikan data yang benar,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan juga menjadi keynote speaker workshop berdurasi 150 menit tersebut. Raymond mengapresiasi workshop yang diikuti wartawan dari Forum Jurnalis Peduli Sungai (FJPS) dari daerah Surabaya, Malang, Batu, Lamongan, Medan, dan Toba.

“Dunia jurnalistik tidak asing bagi saya. Dulu saya juga sempat hampir menjadi jurnalis pada tahun 90-an,” seru Raymond, saat membuka workshop.

Ia bercerita pengalamannya pernah mendaftar menjadi kontributor The Jakarta Post. Waktu itu syaratnya menggunakan tes TOEFL minimal 500 dan saya 500 sekian dan dinyatakan lolos.

“Tapi saat itu saya memilih tidak melanjutkan dan memilih melanjutkan kuliah hingga berkarir di PJT I,” ungkapnya bercerita.

Dengan pelbagai pengalaman di dunia jurnalistiknya itu, ia pun mengaku sangat mengapresiasi kerja wartawan dalam mencari informasi berita.

“Saya walaupun malam hari di WA atau ditelpon wartawan selalu saya balas. Saya paham wartawan kerja juga ada deadline. Jadi dengan workshop yang digelar ini, saya berharap bisa menambah ilmu bagi kawan-kawan jurnalis,” tandasnya. (rhd)]

Baca juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *