Pemkot Malang Optimis 2045 Zero Stunting

Malang, SERU.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang berkomiten dukung program nasional, dalam rangka percepatan penurunan angka stunting 14 persen. Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Malang, Ir Sofyan Edi Jarwoko usai mengikuti Apel Siaga Tim Pendamping Keluarga Nusantara Bergerak secara daring di NCC Balai Kota Malang, Kamis (12/5/2022).

Ir Sofyan Edi Jarwoko mengatakan, kegiatan Apel Siaga tersebut diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat yang turut serta mensukseskan percepatan penurunan angka stunting.

“Di seluruh Indonesia dicanangkan hari ini, langkah-langkah yang sudah dilakukan baik oleh Pemerintah Pusat, Provinsi hingga Kabupaten/Kota telah membentuk tim untuk program tersebut,” seru pria yang akrab disapa Bung Edi tersebut.

Ia menjelaskan, tim yang telah dibentuk tersebut kedepannya melakukan pencegahan stunting secara preventif. Dimana sasaran tugasnya adalah mengedukasi para Calon Pengantin (Catin).

“Tugasnya salah satu mempersiapkan pemuda-pemudi yang akan menikah. Hal ini bertujuan supaya dipersiapkan sejak dini dalam memasuki fase keluarga hingga hamil dan lain sebagainya, agar lebih diperhatikan,” imbuhnya.

Pasalnya, pencegahan secara preventif tersebut merupakan langkah paling tepat dalam percepatan penurunan angka stunting. Sehingga para Catin yang sedang akan hamil hingga saat memasuki pasca kelahiran, kebutuhan gizi bayi dapat terpenuhi.

“Kalau itu yang terjadi maka sebetulnya kita bisa secara preventif mencegah terjadinya kelahiran bayi stunting. Karena bayi yang telah memasuki umur lebih dari 1.000 hari akan sulit untuk mengintervensi kasus tersebut,” terang Bung Edi.

Saat dikonfirmasi angka stunting di Kota Malang sendiri, dia menyebutkan Kota Malang telah lebih awal memenuhi target secara nasional. Dimana tingkat prevalensi angka stunting di Kota Malang sudah 13 persen.

“Kemarin saya disampaikan dari Dinkes, di Kota Malang sendiri sudah 13 persen. Insyaallah 2045 zero stunting,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo menyampaikan, prevalensi stunting secara nasional saat ini masih di angka 24,4 persen. Hal tersebut berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021.

“Angka ini, masih lebih tinggi dari standar WHO sebesar 20 persen, dan jauh dari target kita pada tahun 2024 yakni sebesar 14 persen,” terang Hasto saat Apel Siaga.

Dalam apel tersebut, pihaknya telah mengerahkan 600 ribu personel yang tergabung dalam 200 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK). Hal tersebut berangkat dari jumlah keluarga berisiko stunting, dimana jumlahnya mencapai 21,9 juta keluarga.

“Jumlah keluarga berisiko stunting ini harus ditekan seminimal mungkin. Mari kita bekerja secara optimal dalam menanganinya,” pesan Hasto. (ws5/ono)


Baca juga: