Menjadi Penengah Konflik Ukraina-Rusia, Apa Untungnya untuk Indonesia?

Kharisma Hijriyatul Amelia (202110360311256)
Hubungan Internasional – Universitas Muhammadiyah Malang

Perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Sejumlah pihak khawatir, perang yang terjadi antara dua negara tersebut akan berpengaruh terhadap kestabilan geopolitik di seluruh dunia, juga termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi antara dua negara bekas Uni Soviet tersebut, sudah sepatutnya mulai mempersiapkan berbagai strategi. imbas yang akan dialami oleh indonesia diantaranya adalah Harga minyak yang akan melambung tinggi, bahan bakar juga mengalami kenaikan, dan lain sebagainya.  

Potensi ketidaktenangan politik, ekonomi dan keamanan bisa saja menjalar ke kawasan lainnya jika peningkatan konflik kedua negara tersebut semakin memuncak. Apalagi banyak ahli yang menduga bahwa hal terburuk yang akan terjadi dari konflik dua negara itu adalah akan terjadinya perang dunia ketiga. Jika dilihat dari sisi ekonomi Indonesia, transaksi perdagangan antara Indonesia dengan dua negara tersebut juga setiap tahun terus menerus menunjukkan banyak sekali peningkatan. Pada tahun 2021 lalu, neraca perdagangan Indonesia dengan Rusia tercatat berkelebihan sebanyak US$239,8 juta. Sehingga untuk meminimalisir terjadinya hal buruk yang akan dialami oleh dunia, khususnya Indonesia, Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan untuk menjadi penengah konflik diantara dua negara tersebut. Presiden jokowi berharap agar konflik ini terselesaikan dan kestabilan politik, ekonomi, serta keamanan seluruh negara di dunia tetap terjaga. Aksi perdamaian yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo tersebut dinilai cukup berani, pasalnya peperangan bukan saja hanya berdampak pada negara yang berperang namun juga negara lain yang terdampak secara ekonominya, tak terkecuali Indonesia. Dengan aksi tersebut, Presiden Joko Widodo bukan saja membantu menyelamatkan perekonomian negara Indonesia, namun juga negara lain.

Pertemuan antara Presiden RI Joko Widodo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin, Moskow, Rusia sempat menjadi pusat perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Dimana pada hari Kamis (30/6/2022) Presiden Jokowi menemui Presiden Putin untuk sedikit membicarakan perihal misi perdamaian yang dibawa untuk kedua negara dan lebih banyak membicarakan tentang kerja sama ekonomi Rusia dengan RI. Sehingga kedua belah pihak sudah menyatakan tentang ketertarikan kerja sama diantara keduanya khususnya dibidang ekonomi dan teknik. Tidak hanya itu, hubungan kedua negara yang bersifat membangun dan saling menguntungkan ini ingin tetap terus dilanjutkan dan berkembang sesuai tradisi persahabatan yang telah berlangsung lama itu. Presiden Rusia juga mengatakan bahwa akan membantu Indonesia dalam mengembangkan industri tenaga nuklir nasionalnya. Putin juga banyak menyinggung tentang banyaknya potensi kerja sama bisnis serta infrastruktur transportasi logistik serta dapat mengimplementasikan inisiatif skala besar Indonesia untuk memindahkan ibu kota negara di pulau Kalimantan. Rusia juga menyanggupi permintaan Indonesia untuk mengekspor pupuk nitrogen, fosfor, dan kalium serta bahan baku produksi mereka.

Sebelumnya jokowi juga telah menemui presiden ukraina Volodymyr Zelensky di ibu kota ukraina Kyiv untuk membahas hal yang sama seperti kerja samanya dengan Rusia. Dalam pertemuan itu, Jokowi sebagai presiden Indonesia mengajak Putin sebagai presiden Rusia untuk menghentikan perang dan melakukan genjatan senjata. Presiden Jokowi khawatir mengenai dampak krisis pangan yang terjadi sekarang ini. Presiden Jokowi juga menepati janjinya dengan mengajak negara G7 untuk berusaha keras untuk perdamaian di Ukraina dan mencari solusi tentang krisis pangan yang terjadi saat ini dan semakin menjadi-jadi. Ketersediaan Presiden Jokowi untuk menjadi jembatan pendamai antara Ukraina dan Rusia ini menimbulkan perdebatan diantara masyarakat Indonesia, mereka bertanya-tanya apa yang akan Indonesia dapatkan dari keadaan ini? karena adanya gangguan dari konflik antara Ukraina dan Rusia yang membuat rantai pasok pangan dan pupuk yang bisa berdampak kepada ratusan juta masyarakat dunia, terutama di negara berkembang. sehingga pengaruh untuk indonesia sebagai negara yang berkembang adalah terjadinya krisis bahan pangan dan pupuk di indonesia. Keputusan yang diambil oleh presiden dalam menangani isu ini sangatlah besar dan memiliki resiko yang sangat besar yang akan ditanggung oleh negara.

Sejak awal Presiden Joko Widodo dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki kepentingan apapun kecuali ingin melihat perang dapat segera selesai dan rantai pasok pangan, pupuk, dan energi dapat segera diperbaiki. Dalam hal ini, Presiden Jokowi menginginkan agar krisis pangan yang terjadi pada saat ini selesai. Demi kemanusiaan juga, Presiden Joko Widodo juga mendukung usaha PBB untuk menyatukan kembali bahan pangan dan pupuk Rusia serta komoditi pangan Ukraina untuk masuk lagi dalam rantai pasok dunia.

Sorry, you cant copy SERU.co.id!