Menjadi Generasi Stroberi yang Tangguh

Siapa yang tidak kenal buah stroberi? Buah cantik berwarna merah yang tentu sudah dikenal luas oleh hamper seluruh lapisan usia. Perpaduan rasa manis dan asam juga mejadi daya tarik tersendiri dari buah ini. Selain itu, buah ini juga dikenal memiliki segudang manfaat untuk kesehatan dan kecantikan sehingga banyak orang yang menyukai buah ini.

Dibalik bentuknya yang cantik dan rasanya yang unik, nyatanya buah stroberi ini mudah rapuh. Jika buah ini terkena benturan atau kita menyikatnya maka buah ini akan dengan mudahnya terkoyak dan hancur. Filosofi inilah yang akhirnya mendasari lahirnya istilah generasi stroberi, cantik namun mudah rapuh.

Siapa itu generasai stroberi? Sejatinya istilah ini pertama kali muncul di Taiwan yang merujuk pada generasi muda yang lahir pada tahun 1997 dan setelahnya. Namun, salah seorang akademisi, Rhenald Kasali, menyebutkan bahwa generasi ini tidak semata-mata merujuk pada generasi yang lahir pada periode waktu tertentu karena ada juga generasi kelahiran tahun 90-an yang masuk ke dalam generasi Z dan milenial.

Terdapat beberapa ciri yang identik dengan generasi stroberi seperti sering putus asa (pesimis), suka bermalas-malasan, mudah berubah pikiran atau tidak teguh pendirian, serta ingin meraih sesuatu dengan cara yang cepat (instan). Hal inilah yang kemudian menjadikan generasi stroberi menjadi pribadi yang tidak sabar dalam menjalani sesuatu dan mudah mengeluh atau complain. Salah satu contoh yang sangat sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari adalah maraknya cuitan atau sharing pengalamandi media sosial yang menunjukkan betapa beratnya menjalani kehidupan dengan segala beban yang ada. Sedikit-sedikit butuh healing atau self-reward dengan dalih untuk membuat lebih semangat, menghilangkan penat, atau menenangkan pikiran supaya tetap sehat secara mental.

Seiring perkembangan jaman dan kemajuan teknologi yang sangat pesat, banyak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah beralih baik secara fisik maupun mental. Kemampuan untuk mengakses segala informasi yang ada dan hasrat untuk menjadi pribadi yang up to date atau latah ingin menjadi viral merupakan salah satu penyebab munculnya generasi stroberi. Tentu saja kita tidak bisa menghindari kemajuan teknologi yang terus berkembang dengan pesat ini, namun disisi lain adanya kemajuan teknologi ini bisa menjadi bumerang jika tidak digunakan dengan bijak. Tersedianya gadget dan pola asuh dari orang tua yang tidak memberikan pengawasan yang cukup, membuat generasi stroberi ini menjadi semakin mudah rapuh. Intensitas interaksi dengan screen yang dilakukan oleh generasi ini membuat mereka tidak tangguh dalam menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Generasi ini tidak secara nyata berhadapan atau kurang berinteraksi dengan sesuatu yang riil, sehingga ketika mereka dihadapkan pada situasi yang kurang mengenakkan, mereka akan banyak mengeluh dan kurang berusaha dalam mencari cara untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Sebagai generasi penerus bangsa, tentu saja kita tidak bisa terus membiarkan semakin banyaknya generasi stroberi. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cakap dalam menggunakan media sosial, pandai secara kognitif, namun juga mereka yang memiliki social skill yang tentunya akan mereka butuhkan untuk menjalin kolaborasi serta membangun networking di kemudian hari. Oleh karena itu, besar peranan kita semua untuk bisa mengarahkan generasi stroberi. Sebagai orang tua, harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan memberikan perhatian kepada anak-anak kita. Memberikan fasilitas terbaik seperti gadget yang canggih akan lebih bermakna jika orang tua bisa mendampingi, mengarahkan, dan memberikan pengawasan penggunaannya kepada anak-anak kita. Jangan sampai sebagai orang tua terlalu sibuk dan memberikan kebebasan kepada anak sehingga mereka dengan leluasa mendapatkan informasi tanpa adanya filter terhadap informasi atau akses yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan tumbuh kembang anak-anak kita. Mereka masih perlu pendampingan untuk mengkonfirmasi apa yang mereka temukan supaya anak-anak tidak memberikan label yang kurang pas terhadap apa yang mereka temukan atau alami. 

Guru juga memiliki peranan besar dalam mengarahkan generasi stoberi supaya lebih baik. Adanya Kurikulum Merdeka nampaknya bisa menjadi jembatan untuk melahirkan generasi penerus yang cakap, mahir, dan mampu mengakodomodir potensi siswa sesuai dengan bakat dna minatnya masing-masing. Guru harus update dengan karakteristik, minat dan mengimbangi dengan kecakapan digital supaya bisa menarik perhatian siswa. Selain itu guru juga harus upgrade startegi pemeblajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Pemberian tugas tidak hanya difokuskan pada aspek kognitif saja, namun siswa diberi kebebasan untuk memilik bentuk atau jenis tugas sesuai dengan minat mereka. Ketika siswa diberi pilihan, mereka tidak akan merasa terpaksa, justru ketika mereka bisa memilih sesuai dengan apa yang mereka suka, mereka akan mengupayakan berbagai cara supaya hasil yang diperoleh bisa maksimal. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bisa bekerja sama juga akan melatih kecakapan siswa dalam bersosialasi, sehingga mereka akan interaksi secara lansgung. Mereka akan belajar bagaimana menempatkan diri dalam menghadapi sesuatu, serta mengelola emosi ketika merak harus berkolaborasi dengan orang lain. Terus memberikan pengertian dan feedback terhadap hasil belajar atau karya siswa juga perlu dilakukan supaya siswa tidak cepat puas dan terus bisa memotivasi mereka ke arah yang lebih baik.

Oleh: Chasanatun Mujrikhah, S.Pd

Baca juga: