Menguak Kasus ‘Fetish Hijab’, Begini Kata Psikolog

Malang, SERU.co.id – Kasus yang pekan lalu sempat viral di media sosial mengenai ‘fetish hijab’ menjadi sorotan netizen. Termasuk salah satu pakar psikolog yang memandang kasus tersebut berangkat dari kelainan seksual.

Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang), Fuji Astutik menjelaskan, memang kasus fetish itu dikatakan upnormal atau tidak sesuai dengan pada fungsi yang sebenarnya. Atau tidak sesuai dengan roadnya, boleh dikatakan tidak normal.

“Kasus ‘Fetish Mukena’ ini memang ketertarikan seksual. Tetapi punya ketertarikan seksual ke benda-benda yang tidak sewajarnya atau bagian tubuh tertentu,” seru Fuji Astuti, dihubungi melalui telepon, Senin (23/8/2021).

Menurutnya, fetish dikatakan kelainan, kalau memang ada kelainan fetisisme. Dimana ketertarikan seksual kepada objek yang mati atau benda mati. Secara rasional tidak bisa diterima oleh orang normal, namun bagi pengidapnya bisa membuat terangsang.

“Ketertarikan pada benda mati seperti mukena atau baju atau apalah itu. Atau bagian tubuh yg tidak terlihat seksual, misalnya kuku, itu kan gak seksual,” beber alumnus Universitas Airlangga yang mengambil Profesi Psikolog ini.

Pandangannya, psikolog menilai beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya kelainan kelamin. Kemudian bisa jadi psikologinya yang membuat menyimpang, yang bisa terjadi sejak kecil.

“Misalnya waktu kecil ada pengalaman-pengalaman tentang objek itu dengan rangsangan yang mengarah ke kekuatan seksual,” terangnya, kepada SERU.co.id.

Pihaknya menambahkan, stimulasi yang diperoleh dari lingkungan bermacam-macam, sehingga bisa dihubungkan dengan hal-hal fantasi. Misalnya benda tertentu dihadirkan dan dihubungkan kepada rasa kepuasan yang mengarah ke seksual dan pengaruhnya kuat.

“Misalnya dia dengan masturbasi, dia mengklikkan diotaknya kalau lihat ini nih rangsangan seksualnya muncul,” seloroh alumni S-1 UIN Maliki Malang ini.

Untuk pengobatan, Fuji mengungkapkan, kelainan fetish bisa diobati. Tahap pertama harus dilakukan pemeriksaan, sejauh mana tingkat kelainannya.

Selanjutnya, dilihat apakah sudah terjadi lebih dari enam bulan. Ketika sudah lama dan terus menerus, akan dilihat apa yang membuat dirinya terangsang, sekligus diukur seberapa besar dan kuat.

Kemudian, memperbaiki mindset apakah pernah melihat film dan seterusnya. Disadarkan terlebih dahulu, agar mempresepsikan sesuatu sesuai dengan porsi dan tempatnya. Yakni memunculkan ketika rangsangan berasal dari objek tertentu dari bagian tubuh seksual, bukan dari benda mati.

“Harus datang ke profesional, karena memang tidak ada pengobatan yang spesifik untuk semua orang. Ya kita akan bantu kalau datang ke profesional,” pungkasnya. (jaz/rhd)


Baca juga: