Makna Dalam Kehidupan Agama Islam

Judul Buku : Allah Tidak Cerewet Seperti Kita
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Noura Books
Ukuran Buku : 14 x 20 cm
Tahun Terbit : 2019
Kota Terbit : Jakarta
Jumlah Halaman : 239 halaman
ISBN : 978-602-385-812-5
Harga Buku : Rp 64.000,00


Buku berjudul Allah Tidak Cerewet Seperti Kita merupakan cetakan ketiga karya Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dipanggil Cak Nun. Buku karya Cak Nun memberikan tema tentang ceramah keagamaan yang membuat hati menjadi tersentuh dan bibir tidak berhenti berucap istigfar.


Dalam buku ini terdapat sebuah hakikat ajaran Islam yang menarik dan mudah dipahami bagi pembaca. (Berbeda dengan kesan yang ditimbulkan dari sebaian umat islam zaman sekarang yang memberikan sifat kaku dalam beragama. Terdapat salah satu Hadis Qudsi yang sangat pupuler, Allah menyampaikan jika hamba-ku datang mendekat kepada-ku dengan berjalan, maka aku akan mendekat kepadanya dengan berlari.


Hadirnya buku ini di kehidupan kita karena terdapat alasan yang menjadi latarbelakang. Pertama, sebagai pengingat umatnya bahwa Allah SWT. tidak akan mempersulit umatnya yang sebagaimana Allah Maha Pengasih dan Maha Pemurah. Kedua, sebagai pengingat jangan suka mengurusi ibadah orang lain. Karena pada masa kini orang-orang lebih senang menghakimi orang lain dalam sebutab kafir dan syirik. Padahal manusia tidak ada hak menghakimi seperti itu.


Syirik itu tidak tergantung bendanya, tetapi bisa dari penampilan yang sangat Islami. Contohnya orang yang berankgat umrah. Dalam berangkat umrah mereka menggunakan uang hasil curian, tetapi berpikir bahwa uang tersebut akan disucikan di Makkah. Maka itu merupakan pandangan yang salah karena akan menjadi tanggungan di akhirat dan termasuk dosa besar.


Umumnya buku ajaran Agama menceritakan tentang ibadah, sepeti cara melaksanakanya dan kewajibannya. Karya Cak Nun ini berbeda dari kebanyakan buku Agama Islam yang lain, karena berani membuka isu-isu dan membuat warga Indonesia menjadi bingung. Isu tersebut tentang rakyat yang kebingungan sehingga menghujat satu sama lain. Dari masalah tersebut dapat memecah belah NKRI, maka dari itu Cak Nun memberikan kita nasihat untuk berhati-hati dalam memberikan pendapat atau pandangan dalam bersuara.


Dalam Media social harus waspada dalam berkata dan berpenadpat karena isinya itu ketidakwaspadaan global. Semua akan diterima kemudian akan dikeluarkan lagi hingga tersebar ke berbagai orang. Dalam kalimat anti-Ahok berarti anti-Cina, maka harus menerima ahok agar tidak dibilang anti-Cina. Kalimat lainnya Ahok sama dengan Cina, maka penegasan tersebut Ahok adalah Cina. Kalimat tersebut bahaya banget, Maka perlu Kembali ke sumber utama dalam isi dari pandangan tersebut.


Tidak hanya pandangan tentang agama, akan tetapi budaya hingga politik pun dibahas dengan baik dan menarik. Buku ini dapat menjawab persoalan Bangsa Indonesia yang menyangkut isu-isu budaya dan politik yang tak luput dari pandangan Cak Nun, seperti persoalan dalam merawat budaya. Diantaranya bagaimana cara menjadi manusia yang beragama dan berbudaya serta isu-isu politik yang berada di Bangsa Indonesia ini.


Buku ini secara fisik mungkin kurang menarik, akan tetapi dari judul tersebut yang membuat pembaca memiliki rasa ingin tahu. Kata-kata penting dalam buku ini dicetak dengan tebal agar pembaca dapat menangkap pesan yang harus diingat. Bahasa yang digunakan mungkin sedikit berat untuk dibaca karena harus paham dengan arti cerita dari Cak Nun, akan tetapi kita seolah-olah diajak berdiskusi dan bercerita dengan kehidupan yang dialami.


Isi dalam buku ini sangat padat dan jelas dalam pemahaman ajaran agama, budaya, politik, dan bahkan cenderung komplit. Mulai dari permasalahan agama, budaya, dan politik. Serta terdapat makna dan kesimpulan yang mudah didapat dari permasalahan tersebut. Dalam Buku ini memiliki 15 bab yang terdapat dalam tema ceramah Cak Nun. Belajar tentang makna kehidupan dari buku ini sangat tertata rapi seperti bersikap dewasa, berlapang dada, dan ikhlas.


Makna tersebut membuka pikiran kita bahwa apa yang kita lakukan masih banyak terdapat kesalahan dan selama ini teralalu kaku dan terkesan ngotot dalam menghadapi masalah. Kita harus bisa menerima dengan ikhlas dalam melakukan yang tidak disuka, karena kemuliaan bisa didapat dari itu dimana rasa bersyukur dalam melakukannya. Maka jalani hidup ini dengan baik tanpa rasa mengeluh dalam meakukannya.


Dalam memahami maksud dari yang ungkapan Cak Nun yang dimana tema pembahasan cukup rumit, dapat diberi dengan sebuah contoh atau analogi yang mudah diterima oleh akal pikiran manusia. Perumpaan tersebut dapat diambil dari kehidupan sekitar yang terjadi di masyarakat. Gaya khas dari Cak Nun dalam memberikan ilmu dapat membuat rasa nyaman dalam membaca dan menyerap penyampaian dari Cak Nun dalam buku ini.


Terdapat sebuah pemahaman syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat yang dimana itu diibaratkan sedang naik kapal yang ingin ke tengah laut terus menyelam untuk mencari sebuah Mutiara. Pertama, syariat itu sebagai awalan sebelum memulai apa yag dituju. Kedua, tarekat itu proses dalam menjalankan tujuannya. Ketiga, hakikat itu proses mencari hasil dari tujuan tersebut seperti benda. Keempat, makrifat yaitu hasil yang telah kita dapatkan dalam proses dan apa yang akan kita lakukan dalam hasil tersebut.


Jadi dalam buku ini banyak sekali pelajaran, pemahaman, serta pengalaman yang dapat menajadi langkah untuk menjadi lebih baik, mantap, dan tepat. Karya Cak Nun mengingatkan untuk siapa diri kita sebenarnya dan apa tujuan kita hidup di dunia. Selain dari itu mengajarkan untuk menjadi manusia yang lebih bermartabat dan bijaksana dalam bersikap, bersosialisasi, dan menghadap kepada Allah. Allah SWT. mengatakan lā yukallifullāhu nafsan illā wus’aha, Allah tidak menagih apa yang berada di luar kemampuan dan kapasitas seorang umat-Nya.
Dalam buku ini banyak sekali Surah dan Ayat dalam Al-Qur’an yang dikutip, akan tetapi tidak dicantumkan. Dimana membuat pembaca sulit untuk mengecek kebenarannya. Terdapat juga bagian kalimat dan kata-kata yang perlu dibaca berulang-ulang agar dapat dipahami. Buku ini sangat rekomendasi untuk orang yang bingung dalam tujuan beragama.

PERESENSI

img 20211125 wa0036
Muhammad Ardhiwiyanata

Nama : Muhammad Ardhiwiyanata
Mahasiswa : Universitas Muhammadiyah Malang
Fakultas: Ilmu Kesehatan
Program Studi : S1 Farmasi
Dosen Pembimbing : Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si