Kontroversi Pulau Rinca yang Dibangun Jadi ‘Jurassic Park’

Nusa Tenggara Timur, SERU.co.id – Belum lama ini, sebuah foto seekor komodo sedang berhadapan dengan truk, menjadi viral di media sosial. Diketahui, foto tersebut diambil di Pulau Rinca, salah satu pulau di Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Pulau Rinca, kini tengah dibangun sarana dan prasarana pendukung pariwisata yang sering kali disebut sebagai ‘Jurassic Park’ Indonesia.

Viralnya foto tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak. Salah satunya dari kelompok sipil Manggarai Barat, yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli dan Penyelamat Pariwisata (Formapp). Mereka melakukan aksi boikot kepada agen-agen wisata. 

“Kami sudah inventarisasi seluruh travel agent yang datang ke Flores. Kami akan kirimkan email ke mereka, jangan ajak turis datang ke Komodo selama 5 tahun,” seru Ketua Formapp, Suhartim, dikutip dari Tempo. 

Pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pun memberikan penjelasan mengenai foto yang viral tersebut. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekowisata (KSDAE) KLHK Wiratno menyebut, pembangunan di Pulau Rinca mengharuskan digunakannya alat berat. Ia menjelaskan, penggunaan alat berat tersebut dilakukan dengan kehati-hatian.

Foto viral komodo vs truk
Foto viral komodo vs truk. (ist)

“Terkait dengan foto yang tersebar di media sosial tersebut, dapat dijelaskan kegiatan aktivitas pengangkutan material pembangunan yang menggunakan alat berat, dilakukan karena tidak dimungkinkan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan alat-alat berat seperti truk, ekskavator dan lain-lain, telah dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,” papar Wiratno, Minggu (25/10/2020).

Lebih lanjut Wiratno menerangkan, aktivitas pembangunan memang mempengaruhi perilaku komodo. Mereka menjadi lebih berani. Wiratno menyebut, populasi Komodo di Lembah Loh Buaya cenderung stabil dalam 17 tahun terakhir. Bahkan, dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan.

“Aktivitas pembangunan pariwisata selama ini sedikit mempengaruhi perilaku komodo, antara lain komodo lebih berani dan menghindari manusia, tetapi tidak mempengaruhi tingkat survivalnya/tingkat kebertahanan hidup (ardiantiono et al 2018). Hal ini dapat dibuktikan dengan tren populasi yang tetap stabil di lokasi wisata Loh Buaya tersebut,” terang Wiratno, dilansir dari Detik.

Baca juga:   Pemkot Malang Serahkan Penghargaan KOVABLIK Jatim 2020

Dengan kontrol yang baik dan mengurangi kontak satwa, maka pembangunan dinilai tidak akan membahayakan populasi komodo. Terlebih, para ranger Taman Nasional Komodo selalu mengecek keberadaan komodo di sekitar lokasi pembangunan.

Hal serupa juga dijelaskan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. Basuki memastikan, sarana yang sedang dibangun di Pulau Rinca tetap memperhatikan komodo. Pihak Kementerian PUPR menyampaikan, proses pembangunan juga memperhatikan keselamatan para pekerja dan perlindungan satwa.

“Pembangunan infrastruktur pada setiap KSPN direncanakan secara terpadu melalui sebuah rencana induk pengembangan infrastruktur yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi,” kata Basuki, dalam keterangan tertulis, Senin (26/10/2020).

Surat pengumuman BTNK
Surat pengumuman BTNK. (ist)

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang Nistyantara, menandatangani surat tentang penutupan sementara resort Loh Buaya dari aktivitas pariwisata. Penutupan ini berlaku mulai Senin (26/10/2020) hingga 30 Juni 2021 mendatang. Dalam surat pengumuman disebutkan, penutupan diambil guna percepatan penataan dan pembangunan sarana dan prasarana yang sedang berlangsung. (hma/rhd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *