Kondisi Sertifikasi Online Dibidang Teknologi Informasi ditengah Masa Pandemi

Rahul Pandika (201810370311301)
Teknik Informatika
Universitas Muhammadiyah Malang

Indonesia pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada Senin 2 Maret lalu. Saat itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua orang Indonesia positif terjangkit virus Corona yakni perempuan berusia 31 tahun dan ibu berusia 64 tahun. Kasus pertama tersebut diduga berawal dari pertemuan perempuan 31 tahun itu dengan WN Jepang yang masuk ke wilayah Indonesia. Pertemuan terjadi di sebuah klub dansa di Jakarta pada 14 Februari.

Setidaknya dari sanalah dimulainya kegiatan secara daring (dalam jaringan) dimana kegiatan tersebut menggunakan video teleconference Video teleconference ialah alat telekomunikasi yang efektif antara dua orang atau lebih, di mana saja di seluruh dunia. Dengan menggunakan layanan ini, seseorang tidak hanya dapat berbicara satu sama lain tetapi bahkan dapat melihat video dari orang yang berinteraksi dengannya. Ini adalah komunikasi dua arah yang efektif dari transmisi audio dan video. Layanan ini memanfaatkan media internet untuk transmisi data.

Hanya membutuhkan komputer atau layar LCD, koneksi internet broadband, mikrofon dan webcam. Dengan menggunakan alat-alat ini Anda seakan duduk di ruang konferensi yang nyata. Bahkan dengan kemajuan teknologi sekarang ini, Anda sudah bisa melakukan video conference hanya dengan menggunakan cell phone, net book, laptop, komputer desktop. Bahkan, Anda bisa menghubungkan seluruh kantor untuk menerima panggilan video conference. Dengan begitu, orang-orang dari tempat atau lokasi yang berbeda bisa langsung terhubung secara bersamaan. Sejak terbitnya aturan social distancing yang diantaranya harus menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, bekerja dari rumah, mengurangi kegiatan diluar rumah, tidak mengunjungi orang yang sedang sakit, melainkan cukup melalui telepon atau video call. 1 ruangan pertemuan bisa digunakan hanya dengan maksimal 50 orang.

Baca juga:   Forkopimcam Lowokwaru Himbau Penggunaan Maksimal Posko PPKM Mikro

Dengan aturan tersebut maka banyak aliansi sertifikasi menggunakan media video teleconference untuk melakukan sertifikasi secara daring (dalam jaringan). Hampir setiap hari, di akun media sosial kita terbagikan kegiatan-kegiatan online, mulai webinar, pelatihan, kursus, best practice, konferensi sampai kiat jitu, dari yang free sampai yang berbayar. Belum lagi portal video semisal Youtube yang memanjakan kita dengan anugerah “ilmu” yang luar biasa. Bahkan, ada orang yang selama pandemi telah mengumpulkan 40 sertifikat. Logikanya apabila seseorang professional IT melakukan sertifikasi belum tentu mengerti apa titik yang dijelaskan, benar memang seorang professional tersebut telah mengikuti kegiatan namun tidak tau apakah memang benar benar mengikuti atau tidak. Ini biasanya disebut dengan webinar. Konsep webinar juga memberikan pengetahuan satu arah dari seorang yang berpengalaman atau ahli kepada audiens yang butuh ilmu atau pengalaman tersebut. Oleh karena itu, sampai di sini nilai pelaksanaan webinar dan seminar tatap muka langsung sama. Konsep webinar juga memberikan pengetahuan satu arah dari seorang yang berpengalaman atau ahli kepada audiens yang butuh ilmu atau pengalaman tersebut. Oleh karena itu, sampai di sini nilai pelaksanaan webinar dan seminar tatap muka langsung sama. Konsep webinar juga memberikan pengetahuan satu arah dari seorang yang berpengalaman atau ahli kepada audiens yang butuh ilmu atau pengalaman tersebut. Oleh karena itu, sampai di sini nilai pelaksanaan webinar dan seminar tatap muka langsung sama. Contoh yang dimaksud professional IT sedang melakukan suatu seminar, tapi orang tersebut sedang dalam off mic dan off cam, bisa dilakukan juga dengan cara rebahan, atau bahkan mereka bisa sekedar mengisi absensi lalu keluar dari event tersebut. Maka dari itu, si narasumber tidak bisa memastikan apakah orang orang paham apa yang ia jelaskan atau tidak. Sehingga menimbulkan banyak keraguan diantara peserta webinar lainnya apakah mereka memang benar benar bersaing dengan tenaga ahli professional teknologi informasi atau hanya sekedar peserta professional yang abal-abal. Nilai kepercayaan pada selembar sertifikat elektronik sudah jelas semestinya berkurang dalam webinar di masa pandemi. Apalagi sekarang marak sertifikasi online secara free (no htm) jadi mengakibatkan banyaknya peserta menyepelekan event tersebut. Untuk saat ini, panitia memiliki alternative cara untuk meminimalisir peserta yang tiba tiba keluar dari meet tersebut, biasanya panitia share form ditengah acara berlangsung. Dimana form tersebut berisi tentang input data untuk pengiriman sertifikat.

Baca juga:   Tak Hanya Siswa, Guru MTsN 1 Kota Malang Dulang Pundi Prestasi

Masyarakat perlu memahami inti dari webinar adalah untuk mendapatkan ilmu, bukan mendapatkan sertifikat elektronik itu sendiri. Suatu fakta pahit yang mungkin harus saya katakan adalah HRD atau panitia penerimaan beasiswa/pengajuan lainnya tidak terlalu memandang sertifikat elektronik ini sebagai bahan pertimbangan Anda dalam pengajuan tertentu atau pelamaran pekerjaan. Lembaga ataupun perusahaan tidak bisa dibatasi untuk memberikan apresiasi sertifikat elektronik. Walaupun merupakan bentuk pembodohan secara tidak langsung dan progresif, sertifikat elektronik sampai saat ini secara jelas menarik atensi masyarakat untuk mendapatkan dan menambah keramaian acara lembaga atau perusahaan tersebut. Masyarakat harus lebih piawai lagi dan tahu bahwa sertifikat elektronik dari webinar tidak sama nilainya dengan sertifikat kursus daring apalagi yang berbayar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *