ITN Malang Sosialisasi Program Matching Fund 2021 di Kampung Iklim RW 7 Tlogomas

Malang, SERU.co.id – Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil meraih pendanaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Sosialisasi Matching Fund – Kedaireka (Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta) 2021, melalui pengembangan Program Kampung Iklim RW 7 Tlogomas Kota Malang sebagai Upaya Peningkatan Kapasitas Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim.

Ketua Tim Matching Fund ITN Malang, Dr Evy  Hendriarianti ST MMT menjelaskan, pengembangan program Kampung Iklim di RW 7 Tlogomas sebagai upaya peningkatan adaptasi dan mutu perubahan iklim, sekaligus program Kedaireka Kemendikbud RI. Matching Fund 2021 ITN mempunyai perhatian soal lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

“Lingkup Matching Fund ada pengembangan monitoring IPAL, pengembangan telematering cuaca dan kualitas udara. Karena RW 7 ini kampung iklim telematering cuaca dan udara yang mengoptimalkan IPAL Komunal dengan filtrasi dan hidroponik,” seru dr Evy  Hendriarianti ST MMT, di area Kampung Iklim RW 7 Tlogomas, Minggu (12/9/2021).

Sosialisasi Program Maching Fund 2021 bertempat di Balai RT 3 RW 7 Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Turut hadir Rektor ITN Malang, Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE, beberapa Dosen ITN, Ketua Yayasan Tirta Rona Drs Agus Gunarto MM, Lurah Tlogomas Andi Aisyah Muhsin, perwakilan RT/RW, dan mahasiswa.

Selain itu, program pengembangan biopori di tiap RT/RW. Akan disediakan dua reaktor di tiap RT sebagai pengembangan hidroponik, diharapkan meningkatkan kemandirian masyarakat.

“Lalu diakhir, ada pengembangan kegiatan kewirausahaan warga. Objek kewirausahaan adalah olahan sayuran dari hasil hidroponik,” ungkap Dosen Teknik Lingkungan ITN tersebut.

Kedaireka adalah solusi terkini dalam mewujudkan kemudahan sinergi kontribusi perguruan tinggi dengan komersialisasi industri untuk kemajuan bangsa Indonesia. Sejalan dengan visi Kampus Merdeka Merdeka Belajar (KMMB) Kemendikbud RI.

Evy menuturkan, memilih objek lingkungan Kampung Iklim karena berangkat dari IPAL sejak 98 yang diinisiasi oleh Drs Agus Gunarto MM yang perhatian dengan lingkungan. Secara fisik sudah ada, namun perlu dikembangkan lebih lanjut soal IPAL dan kewirausahaan bagi masyarakat.

“Kalau pengembangan alat sistem monitoring online dengan sensor kita bisa setiap saat bisa menganalisa. Hasil monitoring tadi akan divalidasi melalui laboratorium, ada sampel, divalidasi lagi data sampel tersebut,” jelasnya.

Ketua Tim Matching Fund ITN Malang, Dr Evy Hendriarianti ST MMT memberikan penjelasan. (jaz) - ITN Malang Sosialisasi Program Matching Fund 2021 di Kampung Iklim RW 7 Tlogomas
Ketua Tim Matching Fund ITN Malang, Dr Evy Hendriarianti ST MMT memberikan penjelasan. (jaz)

Menurut Evy, sapaan akrabnya kegiatan Matching Fund 2021 sebanarnya dimulai pertengahan Agustus 2021, karena perihal administrasi yang menyebabkan baru bisa dimulai di bulan September. Inti pokoknya akumulasi selama tiga bulan.

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diolah sedemikian rupa hingga mencapai kualitas baik. Sebagian hasil dari pengolahan dibuang ke sungai, termasuk dimanfaatkan budidaya ikan dan tanaman hidroponik.

Air yang keluar dari Kampung Iklim sudah memenuhi baku mutu. Sehingga bisa dikembangkan untuk sistem pengembangan di IPAL. Namun melalui proses dan pemantauan menggunakan system yang bisa dilihat secara kontinyu.

“Kita kembangkan sistem monitoring efluennya (hasil limbah buangan yang melalui proses) supaya setiap saat real time kita bisa tahu air yang dibuang seberapa kualitasnya,” beber alumnus Magister Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini.

Roadmap yang diimpikan pengembangan lanjutan wisata edukasi dalam capaian beberapa poin. Komponen IPAL Komunal terdiri dari unit pengolah limbah, jaringan perpipaan (bak kontrol & lubang perawatan) dan sambungan rumah tangga.

Unit pengolah limbah ada yang terletak jauh dari lokasi warga pengguna IPAL Komunal ada juga yang berlokasi di lokasi pemukiman warga. Dengan adanya pembangunan septic tank komunal dan rehab MCK menjadi kawasan wisata edukasi.

“Pembuangan limbah dari WC warga sekitar sudah tidak lagi langsung masuk ke sungai, akan tetapi masuk ke dalam septic tank komunal tersebut,” bebernya.

Senada, Rektor ITN Malang, Prof Dr Eng Ir Abraham Lomi MSEE mengapresiasi capaian  Matching Fund 2021. Pihak kampus sangat mendukung sebagaimana pengabdian pendidikan Tridharma Perguruan Tinggi. Kebetulan dari pemerintah ada hibah untuk pemberdayaan masyarakat.

“Bagus sekali hasil program yang diusulkan oleh teman-teman (ITN), dilihat menarik sehingga diaprove. Karena memang akan berdampak kepada masyarakat,” jelas Prof Lomi.

Rektor ITN, Prof Abraham Lomi mengapresiasi Match Fund 2021. (jaz) - ITN Malang Sosialisasi Program Matching Fund 2021 di Kampung Iklim RW 7 Tlogomas
Rektor ITN, Prof Abraham Lomi mengapresiasi Match Fund 2021. (jaz)

Pihaknya berpesan, bisa memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan dengan baik. Tidak lupa harus berhati-hati dengan pendanaan tersebut. Karena hibah dari pemerintah mempunyai tanggung jawab serta pengawasan yang sangat ketat sekali.

“Mudah-mudahan progam Matching Fund nanti hasilnya dapat betul-betul memberikan manfaat. Terlebih mendapat penghargaan lokal maupun nasional yang diharapkan,” jelas Rektor ITN periode 2021-2023 ini.

Sementara, Lurah Tlogomas, Andi Aisyah Muhsin mengungkapkan, ucapan terima kasih kepada keluarga besar ITN Malang yang telah mensupport. Mendampingi pemerintah kelurahan melalui konsep lingkungan yang telah berlangsung lama.

“Atas sinergitas ini, kami mengucapkan terima kasih. Semoga berjalan lancar dan kerikil-kerikil cobaan bisa dilalui,” papar Andi Aisyah Muhsin.

Diketahui, Fund Match 2021 ITN Malang terdiri dari 20 mahasiswa dan delapan dosen. Berikut nama-nama dosen yang berpartisipasi ,di antaranya Dr Evy Hendriarianti ST MMT, Dr Hardianto ST MT, Dr Ir Lies Kurniawati Wulandari MT.

Selanjutnya, Ir. Budi Fathoni ST MTA,
Mohammad Reza ST MURP, Dra Siswi Astuti MTd, Suryo Adi Wibowo ST MT dan terakhir Dr Eng Aryuanto Soetedjo ST MT. (jaz/rhd)


Baca juga: