Gelombang Pertama Guru-Siswa Jalani Swab Acak

Malang, SERU.co.id – Pemkot Malang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kebudayaan dan Dinas Kesehatan bersama-sama mengawali swab antigen ke guru dan siswa. Rencananya bakal dilakukan secara periodik di masing-masing sekolah.

Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya klaster sekolah ketika sudah tiga pekan PTM (Pendidikan Tatap Muka) berlangsung.

“Jadi kami minta secara reguler. Mulai hari ini dan seterusnya,” seru Sutiaji, di SDN 02 Bunulrejo Kota Malang, Jum’at (25/9/2021).

Menurutnya, Kepala Dinas bisa mensosialisasikan surat edaran agar siswa bisa diizinkan untuk mengukuti tes swab. Seandainya keberatan, tinggal jujur demi kebaikan semua. Total 25 ribu antigen disiapkan Pemkot Malang untuk 3T (testing, tracing, dan treatment).

“Akan kami perbanyak terus, karena akan kami lakukan 3T, baik di sekolah maupun di masyarakat,” ujar pria penyuka makanan pedas ini.

Senada, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana menjelaskan, melakukan swab di sekolah untuk mengantisipasi sejak dini. Karena ada beberapa daerah sudah ada klaster sekolah. Sehingga jangan sampai nanti di Kota Malang juga ada, maka pihaknya mengantisipasi sejak dini.

“Kami akan lakukan secara periodik ke sekolah-sekolah yang lain, SD, SMP PAUD. Kalau swab untuk murid harus ada izin orang tua,” jelas Suwarjana.

Total pendidik sekitar 13 ribu, dimulai di SMPN 20 Malang dan SDN 02 Bunulrejo. Sementara jumlah guru di SMPN 20 ada 45 guru, sedangkan di SDN 02 Bunulrejo sebanyak 25 tenaga pendidik.

“Mohon maaf ini bukan karena ada klaster, tidak ada masalah sama sekali, kami sampling acak,” ungkapnya.

Salah satu siswa yang ikut swab di SDN 02 Bunulrejo. (jaz) - Gelombang Pertama Guru-Siswa Jalani Swab Acak
Salah satu siswa yang ikut swab di SDN 02 Bunulrejo. (jaz)

Pengalaman swab dirasakan salah satu siswa SDN 02 Bunulrejo, M Fachri Alvianto menuturkan, merasa terkejut tiba-tiba dihubungi oleh pihak sekolah untuk swab. Sedikit grogi karena belum pernah sebelumnya.

“Kaget awalnya, tapi tetap mengikuti anjuran dan tidak lupa izin orang tua,” bebernya.

Ia berharap bisa diselenggarakan pembelajaran tatap muka full. Karena satu minggu hanya dua kali masuk, sehingga materi belum bisa maksimal.

“Kalau pembelajaran langsung, bisa maksimal ilmunya masuk,” tandasnya. (jaz/rhd)


Baca juga: