Gagal Move On dari Ujian Nasional

Nur Rofidah Diyanah
Guru SMP Islam Sabilillah Malang

Sejak boomingnya virus corona di Indonesia tahun 2020 silam, isu Ujian Nasional seakan lenyap seketika. Segala persiapan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak terkait seperti sekolah, siswa, lembaga bimbingan dan yang lainnya ternyata harus usai sebelum berperang.

Ujian Nasional adalah ujian yang dilakukan oleh siswa kelas 6, 9 dan 12 untuk menguukur kemampuan akademik siswa. Ujian Nasional mengujikan beberapa mata pelajaran esensial seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan mata pelajaran jurusan lainnya (pada jenjang SMA). Hasil dari ujian ini nantinya dipergunakan sebagai bahan pertimbangan kelulusan siswa. Ujian Nasional merupakan ujian yang wajib diikuti oleh seluruh siswa yang hendak berpindah jenjang tanpa terkecuali. Ujian Nasional dilaksanakan serentak oleh seluruh siswa di Indonesia.

Ujian Nasional di anggap cukup prestige  oleh sebagian besar sekolah di Indonesia.  Sehingga banyak sekolah yang sangat mengenedepankan hasil dari Ujian Nasional. Hal ini dikarenakan kualitas sekolah dipengaruhi oleh output yang dapat diukur dengan nilai Ujian Nasional. Baik rata-rata perolehan nilai Ujian Nasional siswa, nilai Ujian Nasional tertinggi, perolehan nilai sempurna pada setiap mata pelajaran dan tentunya jumlah lulusan yang masuk sekolah favorit pada jenjang berikutnya.

Stigma banyak sedikitnya siswa yang memperoleh nilai Ujian Nasional yang tinggi, mempengaruhi kualitas sekolah. Sekolah dengan lulusan yang bagus, akan menjadi incaran bagi siswa-siswa yang hendak masuk pada jenjang tersebut. Karena sekolah dirasa memberikan pembelajaran yang ideal. Akibatnya siswa saling berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai Ujian Nasional yang bagus bahkan sempurna.

Euforia yang dirasakan oleh siswa kelas 6, 9 dan 12 yang hendak mengikuti Ujian Nasional ternyata berimbas kepada pembentukan karakter siswa. Ujian Nasional yang dianggap momok yang tidak dapat dihindari, memaksa berbagai pihak untuk mempersiapkannya dengan matang. Tidak sedikit sekolah di Indonesia yang telah membuat program selama satu tahun untuk mempersiapkan Ujian Nasional . Beberapa sekolah juga telah membuat program akademik untuk memampatkan pembelajaran kelas 6,9 atau 12 menjadi 1 semester dan pada semester berikutnya berfokus kepada kegaiatn drilling soal-soal Ujian Nasional. Di samping itu sekolah juga mulai memberikan bimbingan belajar intensif yang dilakukan setiap hari dan juga try out yang dilaksanakan secara berkala.

Selain program yang bersifat akademik, beberapa sekolah juga melakukan usaha secara spiritual. Seperti pembacaan istighosah, sholat malam, puasa sunnah, rutin bershodaqoh dan berbagai kegaitan lainnya. Pembiasaan tersebut dilakukan karena sejatinya manusia tidak akan bisa lepas dari kehendak Tuahnnya. Bagaimanapun usaha yang dilakukan tidak akan berbuah manis jika tidak ditakdirkan baik oleh Tuhan- Nya. Pola pikir ini ditanamkan kepada siswa yang hendak mengikuti Ujian Nasional. Ujian Nasional diibaratkan suatu cita-cita yang hendak dicapai. Para siswa didoktrin untuk selalu beribadah dan berbuat baik kepada orang tua, guru dan sesama teman, karena mungkin dari sebab tersebut siswa mendapatkan kemudahan dalam menyelesaikan Ujian Nasional.

Berbagai upaya yang dilakukan guna mempersiapkan Ujian Nasional, ternyata memberikan dampak positif bagi siswa. Dengan adanya Ujian Nasional, secara terpaksa siswa harus belajar dengan giat untuk mendapatkan predikat “Lulus”. Bahkan beberapa siswa juga berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai sempurna, sehingga siswa tidak pernah meremehkan suatu pembelajaran, terlebih pada saat kelas 6,9 atau 12. Seperti yang sudah dijelaskan pula, siswa juga melakukan usaha secara spiritual karena doktrin yang diberikan secara terus-menerus. Keterpaksaan tersebut akhirnya menjadi pembiasaan baik bagi siswa untuk terus berprogres.

Fenomena tersebut seakan berubah 180° sejak dihapuskannya Ujian Nasional 2021 silam. Secara tidak langsung, siswa dengan semangat belajar menengah ke bawah tidak memiliki motivasi bahkan tekanan untuk mendapatkan predikat “Lulus”. Predikat “Lulus” dari suatu jenjang pendidikan seakan menjadi hal yang biasa tanpa memerlukan perjuangan. Terlebih sistem penerimaan siswa secara zonasi, yang memudahkan siswa untuk masuk sekolah mana saja, hanya dengan bermodal rumah yang dekat dengan sekolah. Faktor-faktor tersebut ternyata mengakibatkan degradasi motivasi belajar dan usaha spiritual pada siswa. Faktor-faktor tersenut membuat siswa tenang untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMA tanpa perlu mengeluarkan effort berebih untuk mendapatkan nilai yang baik. Pola pikir tersebut, juga mengakibatkan siswa tidak memiliki tujuan yang jelas pada jenjang pendidikan yang ditempuh, sehingga siswa juga tidak perlu untuk melakukan usaha secara spiritual.

Peniadaan Ujian Nasional juga membuat stigma masyarakat akan sekolah favorit juga terhapus. Semua sekolah akhirnya dianggap sama dengan lingkungan belajar yang standart. Input dan output dari sekolah juga tidak bisa terukur secara valid, sehingga kesuksesan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah juga tidak dapat diketahui. Tidak sedikit orang tua yang merasa kesulitan untuk menyekolahkan anaknya, karena kualitas pembelajaran yang tidak jelas dan lingkungan belajar yang acak. Meskipun peniadaan Ujian Nasional juga melalui berbagai pertimbangan dari pihak pengambil keputusan, ternyata peniadaan Ujian Nasional juga menimbulkan berbagai degradasi.

Sorry, you cant copy SERU.co.id!