Duet Busyro – Fauzi Pacu Pembangunan Infrastruktur Jalan Daratan

Demi Buka Akses Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Sumenep, SERU.co.id – Poros roda pemerintahan Sumenep terus berputar searah dengan jarum perubahan. Demi memacu terjadinya perubahan, sejumlah sector pun digarap oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. Salah satunya yang cukup urgen yakni soal pembangunan infrastruktur jalan, gedung perkantoran dan saluran irigasi pertanian.

Geliat perubahan Sumenep mendapat sorotan dari Fadal, salah satu aktivis anti korupsi Sumenep. Di mata Fadal, duet kepemimpinan Busyro – Fauzi selama 5 tahun berjalan menunjukkan trend positif. Salah satu manifestasi kebijakan politiknya menggenjot pembangunan sejumlah infrastruktur di daratan termasuk kepulauan. Karena salah satu akses penting membuka terjadinya pertumbuhan ekonomi kerakyatan yakni adanya infrastruktur jalan yang baik, beraspal dan kokoh.

Pegiat anti korupsi ini membeberkan dari sector kebijakan publik bahwa duet Busyro – Fauzi suskses membangun Sumenep.

“Saya cukup tertarik dengan Fauzi lantaran beliau maju lagi sebagai calon Bupati Sumenep. Ini tentu saja menarik karena sentuhan kebijakan di sector infrastruktur jalan misalnya mendapatkan porsi yang terbilang memadai. Anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah digelontorkan untuk alokasi infrastruktur jalan,” ujar Fadal.

Tentu saja, kata dia, keseriusan Fauzi dalam membangun Sumenep layak mendapat apresiasi. Itu dibuktikan salah satunya dalam membuka akses pertumbuhan ekonomi kerakyatan, sejumlah infrastruktur pun dibangun. Mulai infrastruktur jalan, gedung perkantoran hingga saluran irigasi pertanian.

Rakyat tentu tidak akan lupa bahwa poros jalan baru terus dibuka dan dibangun. “Contoh, jika mau menuju Kota/kabupaten lain bisanya jalan paing mumpuni jalur protocol (jalan pantai selatan) atau yang terbaru dibangun lagi pelebaran jalan di jalur pantura (Pantai Utara). 2 jalur strategis itu bisa mudah menuju Pamekasan bahkan tujuan Surabaya,” ungkapnya.

Baca juga:   Dana PIWK Tak Diserap, Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki

Namun meski demikian, ternyata Fauzi selaku Wakil Bupati Sumenep kala itu, berani melakukan terobosan kebijakan. Yakni membuka akses baru poros tengah. Dari Kota Sumenep menuju Kota Pamekasan sudah dibangun jalan lingkar barat dengan menghabiskan dana puluhan miliar rupiah, di Kecamatan Batuan. Lalu dibangun lagi pelebaran jalan terusan menuju Kecamatan Lenteng yakni Lenteng Timur – Lenteng Barat senilai Rp 5,4 Miliar.

 “Lalu dilebarkan lagi jalan Daramista – Lenteng Rp 8,5 Miliar, Lalu dilebarkan lagi Lenteng menuju Kecamatan Ganding Rp 3,5 Miliar (2016) dan Rp 6 Miliar (2017). Terus dari Lenteng tembus Kecamatan Guluk-Guluk yakni Guluk-Guluk menuju Bekeong Rp 3 Miliar (2016), dan dianggarkan lagi Rp 4,4 Miliar (2017). Tentu saja itu akan diikuti dengan geliat pertumbuhan ekonomi rakyat,” terang Fadal.

“Tengok saja, pasca jalan dibangun dan dilebarkan sepanjang dari Kota Sumenep sampai menuju Bekeong perbatasan Kabupaten Pamekasan, berjejer perumahan, ruko, pertokoan, pusat perbelanjaan (swalayan), café dan restoran, warung makan dan warung kopi, ATM, dan para PKL di areal pasar tradisional kecamatan. Seiring dengan itu, Pasar tradisional di masing-masing kecamatan akhirnya direnovasi dan dipugarkan,” beber aktivis Forum Masyarakat Inspiratif (Formatif) ini.

Menurut Fadal, di Kecamatan lain juga dibangun. Seperti pembangunan jalan di Kecamatan Pasongsongan yakni dari Jalan Lebeng Barat – Dempo Rp 2,8 Miliar (2018) dan Rp 1 Miliar (2019). Dari jalan Cempaka – Prancak juga dibangun Rp 935 Juta (2019). Di Kecamatan Ambunten dari Jalan Ambunten – Tambaagung Tengah Rp 6 Miliar (2020). Dari Jalan Ambunten menuju Keles Rp 3,6 Miliar (2020).

“Pembangunan dan pelebaran poros jalan terus dilakukan. Seperti di Kecamatan Dasuk dari jalan Dasuk Timur – Dasuk Barat Rp 1,5 Miliar (2019). Di Kecamatan Rubaru dari jalan Pakondang – Matanair Rp 1,5 Miliar (2020). Dari Jalan Bunbarat – Kalebbengan Rp 4 Miliar (2018) dan dianggarkan lagi Rp 4 Miliar (2018). Ini menunjukkan Pemkab Sumenep bekerja,” beber Fadal.

Baca juga:   Vaksinasi Tahap Dua, Kota Malang Bakal Pakai Vaksin Buatan Bio Farma

Begitu juga, lanjut Fadal, di Kecamatan Batang-Batang dari jalan Batang-Batang menuju Kolpo Rp 3,5 Miliar (2016), lalu dianggarkan lagi Rp 4 Miliar (2018). Di Kecamatan Batu Putih dari Jalan Batu Putih Laok – Batu Putih Daya Rp 750 Juta (2019). Lalu dari jalan Sergeng – Jembatan Jangkong Rp 3,5 Miliar (2018) dan Rp 4,2 Miliar (2019). Lalu di Kecamatan Gapura dari jalan Karang Buddi – Lanjuk Rp 3,8 Miliar (2019) dan Jalan Longos – Jaddung Rp 2,7 Miliar (2016). 

Sementara itu, masyarakat setempat  yang sudah dibangun dan dilebarkan jalannya mengaku bangga dengan kerja pemerintah. Seperti disampaikan Mat Toha bahwa dibukanya poros baru jalan itu akan membuat ekonomi masyarakat ikut bergairah. Hasil pertanian bisa dengan mudah, cepat dan lebih murah sehingga mengurangi biaya operasional / pengeluaran petani. (edo/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *