Cerdas Ambil Peluang, Pengusaha Tiada Matinya

PMM UMM Gelombang 14 Kelompok 58 yang dilaksanakan di Desa Bumiaji, Kota Batu, pada hari Rabu tanggal 23 Desember 2020 melakukan kunjungan wisata andalan Desa Bumiaji, yaitu Madukara Farm. Tujuan kunjungan tersebut untuk memperoleh ilmu pengetahuan tentang dunia bisnis.

Berbicara mengenai urusan bisnis memang harus menuntut seorang pengusaha berpikir  kreatif dan inovatif. Seperti halnya bisnis keluarga milik bapak Hendrik yang beralamatkan di Jl. Abdul Ghonaim RT.02/RW.04, Desa Bumiaji, Kec.Bumiaji, Kota Batu. Bisnis susu kambing etawa dengan nama Madukara Farm merupakan bisnis yang sudah berjalan hampir sepuluh tahun.

Dari penjelasan anak bapak Hendrik yaitu bapak Wahyu Eko Purwanto, bisnis Madukara Farm sudah di mulai dari 11 Februari 2011. Sebelum memutuskan berbisnis peternakan susu kambing etawa, beliau adalah petani apel, namun sekitar tahun 2005 cuaca di Bumiaji sudah tidak mendukung untuk kegiatan pertanian apel. Setelah itu bisnis beralih ke tanaman holtikultura, namun bisnis tanaman holtikultura ini dirasa kurang menjanjikan. Maka dengan melakukan riset, keluarga Bapak Hendrik mencoba mencari peluang dalam bisnis peternakan susu kambing etawa.

Untuk pertama berbisnis modal yang dikeluarkan sekitar 15 juta, dan diperoleh 6 ekor kambing, 1 ekor betina, 1 ekor jantan, dan 4 anakan. Untuk tahun berikutnya jumlah kambing bertambah, namun jumlahnya fluktuatif karena ada sebagian kambing yang diperdagangkan. Untuk saat ini Desember tahun 2020 jumlah kambing berada di angka 150 ekor. Jumlah tersebut dipertahankan agar produksi susu juga stabil.

Sesuai dengan kodratnya kambing menghasilkan susu setelah melahirkan, dalam kurun waktu 6 bulan, Puncak grafik produksi susu yang dihasilkan setelah kambing melahirkan berada pada bulan 1-3, untuk bulan 4-6 jumlah susu yang dihasilkan mulai menurun. Untuk setiap kambing menghasilkan 1-1,5 liter susu per hari.

Baca juga:   Wajah Baru Sungai Andalas Tengah, Dari Kumuh Jadi Konservasi

Target produksi susu kambing etawa di Madukara Farm untuk per hari sekitar 20 liter dengan harga per liternya Rp. 30.000,-. Total pemasukan per hari sekitar Rp.600.000,-, dengan penghasilan bersih Rp.150.000,- karena sisanya Rp.450.000,- digunakan untuk biaya perawatan dan operasional. Pak Wahyu Eko mengatakan penghasilan sedikit tidak apa yang penting ada penambahan asset.

Tak berhenti disitu saja bisnis Madukara Farm pada tahun ke-8 mulai mengembangkan bisnisnya masuk ke penggemukan sapi limosin. Sungguh suatu pemikiran yang kreatif dari seorang pengusaha yang selalu mengembangkan bisnisnya agar tidak mati ditengah jalan. Untuk saat ini jumlah sapi limosin ada 5 ekor dengan kualitas premium.

Untuk mengenai pakan, pak Wahyu Eko juga tidak kebingungan dengan memanfaatkan lahan pertanian untuk ditanami rumput. Rumput yang dulunya tidak berharga ketika ia menjadi petani apel, sekarang bernilai ekonomis dan lebih bermanfaat. Selain rumput juga ada pakan yang di fermentasi yaitu dengan bahan kelobot jagung, polar dan air yang di diamkan di tong selama 6 jam. Tujuannya agar pakan lebih lumer dan mudah dicerna.

Background dari Bapak Eko yaitu merupakan seorang lulusan dari fakultas ekonomi dengan jurusan manajemen investasi, tidak membiarkan sampah atau kotoran dari ternak di buang begitu saja. Beliau mendesain kandang dengan konsep kandang kering dimana kebersihannya lebih terjaga dan bau yang ditimbulkan tidak terlalu menyengat, mengingat perternakan ini berada dilingkungan masyarakat. Hasil dari limbah kotoran tersebut di pisah menjadi 3 golongan. Golongan A yaitu kotoran kambing murni, golongan B campuran dari kotoran dan rumput, sedangkan golongan C berupa rumput. Dari kotoran tersebut diolah menjadi pupuk organic yang juga bernilai ekonomis.

Untuk kedepannya Madukara Farm ingin membuka Farm Touring dengan membidik semua segmen pasar. Dari anak-anak yang ingin wisata edukasi, pelajar dan mahasiswa yang melakukan riset, serta orang dewasa dan orang tua yang ingin menjalankan bisnis peternakan bisa berkunjung di Madukara Farm sebagai tempat referensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *