Bank Indonesia Berkomitmen Jaga Stabilitas Harga Hingga Kendalikan Inflasi

Malang, SERU.co.id – Melihat data Balai Pusat Statistik (BPS), Kota Malang pada Desember 2021 mengalami inflasi sebesar 0,75 persen. Sedangkan selama sepanjang tahun 2021 mengalami inflasi 1,75 persen membuat Bank Indonesia (BI) berkomitmen jaga stabilitas harga.

Kepala Perwakilan Bank (BI) Indonesia Malang, Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan, BI dan Pemkot terus berupaya untuk mendorong kegiatan ekonomi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Seiring dengan akselerasi vaksinasi covid-19 sebagai bagian dari upaya mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Kedepan, BI berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah. Serta konsisten dalam mengarahkan ekspektasi inflasi melalui program-program TPID guna mengendalikan inflasi,” seru Azka, sapaan akrabnya, melalui keterangan resmi.

Realisasi inflasi Kota Malang pada bulan ini (mtm) tercatat tertinggi sepanjang tahun 2021. Realisasi inflasi Kota Malang tercatat lebih tinggi dari Jawa Timur dan Nasional, dimana masing-masing terealisasi sebesar 0,69% (mtm) dan 0,57% (mtm). Seluruh kota IHK di Jawa Timur mengalami inflasi pada bulan Desember 2021.

Sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran di Kota Malang mengalami inflasi pada Desember 2021. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau 1,85 persen, penyediaan makanan dan minuman/ restoran 1,23% persen dan transportasi 1,07 persen.

“Deflasi hanya terjadi pada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan -0,01 persen. Sementara itu, kelompok pendidikan tercatat stabil,” ungkap Azka.

Selanjutnya, beberapa komoditas menjadi pendorong laju inflasi Kota Malang, yakni cabai rawit, tarif angkutan udara dan minyak goreng. Cabai rawit menjadi penyumbang inflasi tertinggi Kota Malang pada bulan ini.

Lalu, harga cabai rawit melonjak disebabkan oleh terbatasnya pasokan cabai rawit seiring dengan musim hujan yang cukup intensif. Kenaikan tarif angkutan udara terjadi di tengah mobilitas masyarakat yang meningkat pada momentum libur Natal dan Tahun Baru.

“Sementara, kenaikan harga minyak goreng disebabkan terus meningkatnya harga Crude Palm Oil (CPO) dunia. Laju inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh beberapa komoditas penyumbang deflasi terbesar, yakni mangga, jeruk, air kemasan, apel dan anggur yang  merupakan komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” tandasnya. (jaz/rhd)


Baca juga:

Sorry, you cant copy SERU.co.id!