Asesmen Pengganti UN Bakal Dimulai Bulan September

MalangSERU.co.id – Pemerintah pusat bakal mengganti Ujian Nasional (UN) menjadi asesmen. Rencananya bakal dimulai di bulan September dan Oktober yang menyasar siswa yang duduk di pertengahan jenjang sekolah, seperti kelas IV untuk SD, kelas VII untuk SMP, dan kelas XI untuk SMA.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana menjelaskan, asesmen kompetensi pengganti UN ini nantinya digunakan untuk kompetensi bernalar. Dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah di berbagai konteks, baik personal maupun profesional (pekerjaan).

“Asesmen itu pengganti ujian. Sekarang tidak ada ujian, adanya asesmen. Tahun ini mulai September dan Oktober,” seru Suwarjana.

Pihaknya sudah menyiapkan program kepada guru-guru. Satu sekolah hanya akan ditentukan satu guru dengan 30 siswa bagi SD, dan satu guru untuk 45 siswa SMP. Dari situ, akan dipilih secara acak, sehingga harus dipersiapkan dengan matang dan harus hati-hati.

“Jadi teman-teman guru harus hati-hati untuk mensosialisasi asesmen ini. Karena sebenarnya tidak bisa dipelajari,” ungkapnya.

Suwarjana menambahkan, baik guru dan siswa harus diarahkan saling mendukung. Sarana prasarana yang dibutuhkan juga sudah mendukung untuk semua sekolah melaksanakan asesmen di tahun ini.

“Alhamdulillah Kota Malang melaksanakan semua,” bebernya.

Dilansir dari kemendikbud.go.id bahwa titik tekan asesmen terletak pada literasi dan numerasi. Dimana kompetensi yang sifatnya general dan mendasar. Kemampuan berpikir tentang, dan dengan, bahasa serta matematika diperlukan dalam berbagai konteks, baik personal, sosial, maupun profesional.

Lebih lanjut, cara mengukur kompetensi yang bersifat mendasar (bukan konten kurikulum atau pelajaran). Pesan yang ingin disampaikan, guru diharapkan berinovasi mengembangkan kompetensi siswa, melalui berbagai pelajaran dan pengajaran yang berpusat pada siswa.

Selain itu, Kemdikbud juga akan melakukan survei untuk mengukur aspek-aspek lain yang mencerminkan penerapan Pancasila di sekolah. Hal ini mencakup aspek-aspek karakter siswa (seperti karakter pembelajar dan karakter gotong royong) dan iklim sekolah (misalnya iklim kebinekaan, perilaku bullying, dan kualitas pembelajaran).

Karena fungsi utamanya, sebagai alat pemetaan mutu, asesmen kompetensi dan survei pembinaan Pancasila. Ini belum tentu dilaksanakan setiap tahun, dan belum tentu harus diikuti oleh semua siswa. (jaz/rhd)


Baca juga: