Jakarta, SERU.co.id – Gelombang demonstrasi elite dan kader Partai NasDem terhadap Majalah Tempo terjadi di berbagai daerah dan media sosial. Partai NasDem menolak penggunaan istilah merger dengan Gerindra dan visualisasi sampul yang menampilkan Surya Paloh. Sementara itu, pihak Tempo membuka ruang hak jawab dan mendorong penyelesaian lewat Dewan Pers.
Berikut beberapa alasan para elite dan simpatisan Partai NasDem begitu masif melakukan demo.
1. Simbolisme PT Dianggap Menghina Ideologi
Penyebab utama masifnya gerakan demonstrasi kader NasDem, karena penggunaan istilah PT (Perseroan Terbatas) dalam laporan Tempo. Yakni mengenai wacana merger NasDem dan Gerindra. Bagi para kader, hal tersebut dianggap serangan terhadap martabat partai.
“NasDem didirikan bukan untuk dijual, tapi memperjuangkan rakyat melalui kader yang ada. Kami bukan perusahaan yang bisa diakuisisi atau dibeli,” seru Iskandar, Ketua DPW NasDem Sumut, Rabu (14/4/2026).
Senada, Ketua DPW NasDem DKI, Wibi Andrino menyoroti, kritik seharusnya beradu substansi. Bukan menggunakan framing visual merendahkan personalitas pemimpin.
“Kritik boleh keras, tapi etika tetap harus jadi batas,” ujar Wibi.
2. Istilah Merger dan Blok Politik
Kemarahan NasDem juga berakar pada ketidakakuratan literatur politik yang digunakan Tempo. Istilah Merger dianggap sangat tidak tepat untuk menggambarkan dinamika partai politik di Indonesia.
Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya menilai, laporan tersebut menunjukkan inkompetensi dalam memahami sejarah politik tanah air. Menurutnya, Surya Paloh menawarkan konsep Blok Politik atau aliansi strategis.
“Jadi bukan peleburan badan hukum partai. Pemahamannya jangan merger dong. Ini orang nggak baca, orang nggak memiliki literatur politik,” cetus Willy.
3. Posisi Tawar Kuat
Partai NasDem berhasil mengumpulkan suara nasional sebanyak 14.660.516 suara (9,66 persen) pada Pemilu Legislatif 2024. Posisi tawar ini disebut membuat narasi merger tidak sesuai logika politik.
“Surya Paloh adalah sosok yang sudah selesai dengan urusan materi. Kehadiran NasDem Tower yang megah adalah bukti komitmen fisik dan ideologis. Jadi tak mungkin dikorbankan demi sekadar bagi-bagi kursi,” ujar Anggota DPR RI Fraksi NasDem, Asep Wahyuwijaya.
Tempo Dorong Mekanisme Dewan Pers
Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra menegaskan, bersikap terbuka namun tetap mempertahankan prinsip jurnalistik. Ia menegaskan, setiap laporan telah melalui proses verifikasi.
“Kami menyadari adanya ketersinggungan dampak sampul laporan utama. Kami meminta maaf,” ungkapnya, dalam siaran pers Tempo.
Tempo juga mendorong penggunaan Hak Jawab dan penyelesaian melalui mekanisme Dewan Pers. Khususnya sesuai UU No. 40 Tahun 1999 untuk menyelesaikan sengketa ini secara elegan. (aan/rhd)









