Malang, SERU.co.id – BMKG menyebut fenomena cuaca ekstrem di wilayah Malang Raya belakangan ini merupakan bagian dari masa peralihan musim atau pancaroba. Pihaknya memprediksi, musim kemarau di wilayah ini mulai terjadi pada awal Mei 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno SSi MLing mengungkapkan, wilayah Malang Raya akan lebih dulu mengalami masa transisi sebelum memasuki musim kemarau. Hal ini ditandwi ditandai dengan peningkatan aktivitas awan cumulonimbus.
“Pada periode peralihan musim seperti sekarang ini, ditandai dengan kemunculan awan cumulonimbus. Awan ini biasanya muncul setelah pagi yang terik, lalu siang hari terbentuk awan putih seperti bunga kol yang kemudian berubah menjadi gelap,” seru Anung saat dikonfirmasi awak media, Jumat (10/4/2026) kemarin.
Ia menjelaskan, awan cumulonimbus berpotensi memicu berbagai cuaca ekstrem seperti hujan lebat, hujan es, angin puting beliung, hingga badai guntur. Intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem tersebut cenderung meningkat selama masa pancaroba.
“Tidak hanya intensitasnya yang meningkat. Frekuensinya juga menjadi lebih sering dan cakupan wilayahnya bisa lebih luas dibanding biasanya,” ungkapnya.
Menurutnya, fenomena puting beliung tidak terbatas pada wilayah tertentu. Selama terdapat lintasan awan cumulonimbus, potensi kejadian tersebut bisa terjadi di mana saja, termasuk di wilayah perkotaan seperti Kota Malang.
“Meski demikian, durasi cuaca ekstrem akibat awan cumulonimbus relatif singkat. Ciri khasnya, hujan turun dengan intensitas tinggi tapi berlangsung tidak lama, umumnya terjadi pada siang hingga sore hari,” jelasnya.
Anung menerangkan, keberadaan hujan pada masa peralihan menuju musim kemarau merupakan hal yang wajar. Suatu wilayah dikategorikan memasuki musim kemarau jika curah hujan bulanan berada di bawah 150 milimeter, meski hujan masih bisa terjadi.
Lebih lanjut, ia mengatakan, sebagian besar wilayah Malang Raya diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada awal Mei. Meski, beberapa daerah di bagian timur seperti kawasan perbatasan dengan Lumajang cenderung terlambat memasuki musim kemarau.
“Terkait sektor pertanian, BMKG sudah menyusun rencana alokasi air tahunan yang disesuaikan dengan kalender tanam. Tapi, skenario tersebut dapat berubah jika terjadi anomali iklim,” imbuhnya.
Di tahun ini, BMKG juga memprediksi adanya fenomena El Nino dengan intensitas lemah pada pertengahan tahun. Namun, kondisi tersebut masih terus dipantau, karena berpotensi berkembang menjadi moderat atau kuat.
“Kalau El Nino menguat, maka musim kemarau berpotensi lebih panjang. Awal musim hujan bisa mundur, bahkan hingga awal 2027 di beberapa wilayah,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG bersama Pemprov Jatim telah menyiapkan berbagai strategi. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir dampak El Nino terhadap ketersediaan air dan mencegah potensi bencana lanjutan.
“Kami juga menggandeng pemerintah daerah untuk memetakan wilayah yang rawan kekeringan dan kebakaran hutan. Dalam rakor BMKG bersama Gubernur Jatim, dibahas opsi rekayasa cuaca untuk menjaga ketersediaan air, khususnya di waduk-waduk seperti Bendungan Sutami,” pungkasnya. (bas/rhd)









