Maksimalkan PSN, SPPG Bareng Gandeng KDMP Selorejo Dau Suplai Kebutuhan MBG

Maksimalkan PSN, SPPG Bareng Gandeng KDMP Selorejo Dau Suplai Kebutuhan MBG
Ketua KDMP Selorejo Dau (kanan) menyuplai kebutuhan bahan pangan SPPG Bareng. (rhd)

Malang, SERU.co.id – Wujud memaksimalkan Program Strategis Nasional (PSN), yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP). Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bareng, Kecamatan Klojen, menggandeng KDMP Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Dengan menyuplai kebutuhan bahan pangan MBG untuk memenuhi 3.000-an penerima dari 16 sekolah dan B3 di wilayah Bareng.

Kepala SPPG Bareng, Rofi’u Rahmananda mengatakan, kerjasama SPPG dan KDMP merupakan petunjuk dari pusat, sehingga kedua PSN terintegrasi dan dapat berkembang maksimal. Dimana KDMP memasok bahan pangan langsung dari petani maupun peternak, sehingga rantai pasok lebih singkat dengan kualitas kesegaran lebih terjamin.

Bacaan Lainnya

“Alhamdulillah hingga saat ini tidak ada yang mengembalikan atau mengeluhkan kualitas makanan alias zero complain. Bahkan banyak yang memberikan masukan positif agar kualitas bahan dan pengolahan tetap sesuai standar,” seru Rofi, sapaan akrabnya, ditemui SERU.co.id di SPPG Bareng, Rabu (8/4/2026) petang.

Dua program PSN ini (KDMP dan MBG, red) diintegrasikan pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa dan meningkatkan gizi masyarakat. KDMP sebagai penyuplai logistik, pengumpul hasil pertanian dan penyalur bahan baku untuk program MBG, sementara SPPG didapuk sebagai pengelola MBG. Sehingga menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan, mengurangi angka stunting, hingga terciptanya ketahanan pangan nasional.

Kepala SPPG Bareng Rofi’u Rahmananda (baju biru) dan Chef SPPG Bareng Wahyu Siswo Putraadi mengecek kualitas buah jeruk. (rhd)
Kepala SPPG Bareng Rofi’u Rahmananda (baju biru) dan Chef SPPG Bareng Wahyu Siswo Putraadi mengecek kualitas buah jeruk. (rhd)

“Hingga kini, SPPG Bareng melayani 16 sekolah (9 TK, 6 SD, 1 SMK) dan B3 (Bumil, Busui, Balita Non-PAUD) di wilayah Bareng. Untuk Senin-Jumat, diberikan kepada 2.500 siswa dan 500 B3 atau total 3.000-an penerima manfaat. Untuk Sabtu, kami berikan hanya ke 3 sekolah dan B3 dengan 600-an penerima manfaat,” jelas pria asal Gading Kasri ini.

Dalam kesempatan itu, Rofi menjelaskan teknis operasional agar kualitas bahan baku hingga menu siap saji terjaga. Disebutkannya, SPPG di bawah bendera Yayasan Anak Sehat Bunda Bahagia ini beroperasi 24 jam setiap hari.

“Kami menerima barang bahan logistik mulai jam 14.00-20.00, selanjutnya jam 20.00 mulai dipotong dan diolah. Jam 02.00 bahan makanan mulai dimasak dan hasil produksi berupa MBG didistribusikan mulai jam 07.00. Untuk range harga menu TK – kelas 3 SD Rp8.000 dan kelas 4 SD – SMP Rp10.000,” bebernya.

Senada, Chef SPPG Bareng, Wahyu Siswo Putraadi mengungkapkan, tantangan utama dalam penyediaan MBG yakni mengedukasi anak-anak agar menyukai sayuran.

“Anak-anak umumnya kurang menyukai sayur, tapi wajib kita beri sayur dalam menu MBG, solusinya kami berikan jenis sayuran yang banyak disukai. Sedangkan untuk susu diberikan tiga kali dalam seminggu, sehari susu kemasan, dua hari susu pasteurisasi,” ungkapnya.

Disebutkannya, terkait kerjasama dengan KDMP Selorejo Dau, pihaknya membutuhkan sebagian sayur, jeruk, gula dan bahan baku lainnya. Sementara sisa kebutuhan bahan pangan lainnya dipenuhi melalui mitra supplier sebelumnya.

“Masih belum menyeluruh, karena beberapa jenis sayur dan kebutuhan lainnya jarang ada, sehingga dipenuhi supplier sebelumnya. Karena prinsipnya, bahan baku harus ada menyesuaikan kebutuhan menu yang sudah dijadwalkan setiap hari,” terang mantan chef UB Guest House ini.

Sementara itu, Ketua KDMP Selorejo, Decky Mahar Lesmana menjelaskan, pihaknya rutin menyuplai berbagai komoditas seperti sayuran, buah jeruk dengan sistem farm-to-table. Pengiriman dilakukan 1-2 kali dalam sepekan dengan standar kualitas ketat melalui sistem grading.

“Sekali pengiriman sayur sekitar 100 kilogram, 1.550 – 2.000 buah biasanya jeruk grade 9-10 (1 kilogram isi 9-10 buah, red), disesuaikan kebutuhan harian SPPG. Kendalanya saat jeruk belum musim, sehingga harus mencari dari beberapa lahan agar tetap memenuhi standar kebutuhan,” katanya.

Diakui Decky, kerja sama antara KDMP Selorejo dan SPPG Bareng telah berlangsung sejak Januari 2026. Ia berharap, model kolaborasi KDMP dan MBG melalui SPPG dapat diterapkan secara nasional, sebagai wujud ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi petani.

“Selama ini tidak ada kendala berarti, namun kami terus belajar meningkatkan standarisasi produk agar kualitas semakin baik. Jika koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia bisa menyuplai SPPG, maka ekonomi petani akan bergerak, koperasi berkembang, dan program pemerintah semakin optimal,” harapnya. (rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id