BGN Realisasi 21.801 Motor MBG di Tengah Efisiensi Anggaran dan Gaji Rendah Guru Honorer

BGN Realisasi 21.801 Motor MBG di Tengah Efisiensi Anggaran dan Gaji Rendah Guru Honorer
Ilustrasi sepeda motor untuk operasional MBG. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – Kepala BGN mengonfirmasi realisasi 21.801 unit sepeda motor untuk mendukung operasional program MBG. Ironisnya, realisasi tersebut berjalan di tengah kebijakan efisiensi anggaran negara dan gaji rendah guru honorer. Serta instansi pusat dan daerah sudah melakukan WFH.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengonfirmasi, pengadaan kendaraan operasional program MBG memang telah direalisasikan. Total sebanyak 21.801 unit motor listrik telah tersedia dari rencana 25 ribu unit pada anggaran 2025.

Bacaan Lainnya

“Motor tersebut diperuntukkan bagi Kepala SPPG guna mendukung distribusi dan operasional program di lapangan. Namun belum didistribusikan, karena masih harus melalui proses pencatatan sebagai Barang Milik Negara (BMN),” seru Dadan, dikutip dari CNN Indonesia, Selasa (7/4/2026).

Program MBG sendiri menjadi prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Sebelumnya, Prabowo menegaskan, program tersebut tidak akan dihentikan. Meskipun eskalasi konflik Timur Tengah menekan anggaran negara.

Prabowo bahkan menekankan, efisiensi dilakukan bukan untuk memangkas program strategis. Melainkan menutup potensi kebocoran anggaran. Pemerintah mengklaim telah menghemat hingga Rp308 triliun dari belanja yang dinilai tidak efektif.

Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan, defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap PDB. Jumlah ini meningkat dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Kondisi ini memicu kebijakan efisiensi di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Dampak kebijakan ini bahkan sudah dirasakan tenaga pendidik di daerah terpencil. Di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, sejumlah guru honorer harus menerima kenyataan pahit.

Versi Bahasa Inggris

Salah satu guru, Agustinus bercerita, gaji mereka dipangkas drastis hingga hanya berkisar Rp100 ribu hingga Rp223 ribu per bulan. Padahal ia sudah mengabdi selama lebih dari dua dekade. Kini harus bertahan hidup dengan penghasilan jauh dari layak.

Ia bahkan harus berkebun untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sekaligus menempuh perjalanan sulit ke sekolah dengan menumpang kendaraan yang melintas sejak pagi buta. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id