* Mirae Asset Sekuritas-Bank Jatim edukasi nasabah

Kota Malang, SERU – Permasalahan ekonomi global tentunya berdampak pada industri perekonomian Indonesia. Salah satunya pada sektor keuangan dan perbankan. Dimana secara grafik, terjadi penurunan cukup signifikan.

“Banyak investor asing yang keluar dari kami. Dimana pemilik saham investor asing sebelumnya 65 persen turun menjadi 55 persen. Mereka keluar dulu dari pasar modal untuk cari posisi aman. Namun untuk harga kami dapat menjaga dengan baik. Dimana harga yang turun di atas 630, lebih mudah naik ke 640-650. Dengan terkoreksi di 635, banyak investor yang masuk ambil posisi di Bank Jatim. Karena termasuk murah,” ungkap Lukas Yudhi, Investor Relation Bank Jatim.

Di beberapa kalangan BUMN, lanjut Lukas, yang menggunakan ekspor impor pasti terdampak. Sehingga banyak yang macet. Namun, Bank Jatim tidak memiliki sektor tersebut, sehingga bisa dibilang masih aman. “Sejak RUPS-LB kemarin, manajemen baru memiliki kebijakan tersendiri. Dimana NPL menurun, namun kredit justru meningkat. Sehingga dalam penerimaan NPL kami menjadi yang terbaik,” seru Lukas, disela Seminar Saham bertajuk “Strategi Menyambut Laporan Keuangan Kuartal 3 Tahun 2019” bersama PT Mirae Asset Sekuritas ( OE Malang) dan Bank Jatim cabang Malang, di Whiz Prime Hotel Basuki Rahmat, Malang, Sabtu (12/10/2019) sore.

Dengan kolaborasi edukasi dengan Mirae, masyarakat bisa mengerti apa saja yang perlu diketahui sebelum berinvestasi di Bank seperti PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk , atau Bank Jatim. “Yang perlu diperhatikan, bagaimana kreditnya, NPL, ratio, diatur OJK, dan sebagainya. Selain new customer, investor Mirae setidaknya bisa memperhatikan bagaimana kondisi Bank Jatim yang sehat,” tandas Lukas, didampingi Investor Relation Manager Bank Jatim, Slamet Purwanto, saat memaparkan kepada peserta seminar.

Animo peserta seminar menyimak pemaparan pemateri. (rhd)

Melalui divisi Investment Information, PT Mirae Asset Sekuritas memiliki tugas mengedukasi nasabah dan calon nasabah yang belum akun setiap minggu secara gratis. Materi yang diberikan beragam, seperti teknik fundamental, teknik chart (teknikal), pengetahuan umum pasar modal, dan lainnya. “Setiap cabang di seluruh Indonesia memiliki kewajiban melakukan edukasi setiap minggu, minimal sebulan dua kali. Tak hanya personal, namun juga merangkul komunitas agar edukasinya lebih cepat dan tepat,” papar Roger, MM, Head of Investment Invormation PT Mirae Asset Sekuritas.

Menurut Roger, masyarakat lebih respon terhadap edukasi laporan keuangan, sehingga tidak asal ambil posisi. Dengan analisa yang diberikan Mirae, mereka tahu kapan ambil posisi, sekaligus meminimalisir kerugian. “Dengan belajar, menjadi amunisi transaksi lebih terprogram, sehingga portofolio mereka menjadi lebih baik. Meski proporsi fundamental dan teknikal sama, namun dalam pasar modal atau saham lebih ditekankan pada fundamental untuk jangka panjang,” tambah Roger.

Sinergi Mirae Asset Sekuritas-Bank Jatim. (rhd)

Terkait tema yang diusung, diakui Roger, hanya Mirae yang berani memberikan informasi laporan keuangan kuartal ketiga lebih dari 600 emiten. Kami berikan analisa bisa tidaknya ambil posisi melalui laporan keuangan tersebut. Bagaimana emas, nikel, dan lainnya, setiap pagi. Sehingga mereka bisa memperbaiki cara trading dan ambil posisi,” tandas Roger.

Sementara itu, Manager Tim PT Mirae Asset Sekuritas OE Malang, Putri Kemala A. Candra, mengatakan saham berbeda dengan perdagangan berjangka. Sebab resiko saham lebih kecil dalam jangka panjang, dibandingkan forex. “Kami dibawah OJK atau Departemen Keuangan, bukan Bapepti atau Departemen Perdagangan. Jadi transaksinya untuk jangka panjang. Disimpan tahunan dan dibiarkan tetap aman. Kami juga memfasilitasi nasabah dengan Bursa Efek Indonesia,” terang Putri, meluruskan pandangan masyarakat awam terhadap saham, yang beda dengan forex. (rhd)

Tinggalkan Balasan