Kota Malang, SERU – Mengawali semester pertama tahun ajaran 2019/2020, MTsN 1 Kota Malang langsung menggebrak dengan raihan 92 prestasi. Catatan sementara tersebut dibukukan mulai pertengahan Juli hingga pertengahan September 2019.

Termasuk prestasi nan membanggakan, dimana siswa MTsN 1 Kota berhasil menorehkan jumlah prestasi internasional terbanyak. Yaitu 21 medali emas (gold medals) dan 41 medali perak (silver medals), yang diraih dalam ajang World Scholars Cup 2019 dalam babak Global Round di Newport Performing Arts Theater, Newport, Manila, Philipine, 6-11 September 2019 lalu. Raihan ini sekaligus memecahkan rekor prestasi internasional terbanyak dibandingkan prestasi tahun-tahun ajaran sebelumnya.

“Alhamdulillah, anak-anak mampu mempersembahkan yang terbaik dan mengharumkan nama bangsa dan negara di level internasional. Khususnya bagi MTsN 1 Kota Malang. Tentunya kami sangat bangga. Harapannya, prestasi yang diraih tidak berhenti, namun bisa dikembangkan oleh adik-adiknya. Apalagi ada motivasi dari 3 tim yang berkesempatan ke babak final di Amerika Serikat untuk memperebutkan beasiswa kuliah di Yale University, USA,” ungkap Kepala MTSN 1 Malang, Drs Samsudin MPd, kepada SERU.co.id, di ruang kerjanya.

Sambutan kepada tim yang berhak melaju ke babak TOC di Yale University, USA. (ist)



Sebelumnya, 5 tim beranggotakan 15 siswa-siswi sebagai delegasi MTsN 1, berhasil melalui seleksi babak regional di bulan Mei 2019. Dengan persiapan maksimal, semua tim berhasil melaju ke Global Round untuk bersaing dengan 1500 peserta dari 31 negara. Dalam babak Global Round ini, mereka berhasil melahap 4 bidang lomba, di antaranya Team Debate, Scholars Challenge, Collaborative Writing, dan Scholars Bowl. Dalam tiap bidang tersebut mengangkat 7 tema, di antaranya 2019 Theme, Literature, Social Studies, Special Area, Science & Tech, Art & Music, dan History.

“Anak-anak diberikan tantangan 4 bidang materi dengan 7 tema. Mereka harus menguasai semua materi dan mengeksplorasi dalam bentuk debat dan tulisan secara logis. Baik untuk tanggapan setuju atau tidak secara logis pula,” beber Nurul Hasanah, SPd, guru pendamping yang mengawal delegasi MTsN 1 di Manila.

Dicontohkan guru bilingual Bahasa Inggris ini, para siswa harus bisa menjelaskan secara detail Mozart dan kehidupannya pada Art & Music, kehidupan kaum marginal pada Social Studies, dan lainnya. “Dalam Scholars Bowl, mereka diberikan waktu 15 detik untuk menjawab. Pada Scholars Challenge, mereka juga harus melampirkan literatur dalam menjawab sesuai tema yang diangkat,” tambah alumni FPIK UM jurusan Bahasa Inggris tahun 2008 ini.

Dari 5 tim yang bertanding, tim 1, tim 2 dan tim 3 berhasil lolos seleksi dalam babak Ground Round, dan berhak melaju ke babak Tournament of Champion (TOC) di Yale University, USA, pada 8-13 November 2019 mendatang. “Alhamdulillah, prestasi kali ini lebih baik. Karena di ajang WSC 2018, delegasi MTsN 1 tidak sampai melaju ke babak TOC. Namun kali ini, 3 tim berhasil lolos ke TOC,” ungkap Dyah Khomsiyati, SPd, Ketua Program Kelas Bilingual MTsN 1.

Secara rinci, tim 1 mempersembahkan 33 medali (16 medali emas dan 17 medali perak); tim 2 mempersembahkan 9 medali (1 medali emas dan 8 medali perak); tim 3 mempersembahkan 8 medali perak; tim 4 meraih 6 medali perak; dan tim 5 senior meraih 6 medali (4 medali emas dan 2 medali perak).

Keberhasilan delegasi MTsN 1 ini tak lepas dari peran kedua siswi yang pernah turut di ajang WSC 2018. Belajar dari pengalaman tersebut, Ananda Amalya Hasya (kelas 9L) berhasil meraih 15 medali (9 emas dan 6 perak), dan Kayana Ayunda Diyanti (kelas 9L) berhasil meraih13 medali (5 emas dan 8 perak). Keduanya juga berperan memotivasi dan berbagi trik kepada rekan-rekannya agar bisa meraih medali.

“Alhamdulillah, mimpi kami untuk bersama-sama pergi ke Amerika akhirnya terwujud. Minimal target kami nantinya ingin mendapatkan beberapa medali dan tropi. Kalaupun dapat beasiswa, ya Alhamdulillah. Masih banyak yang perlu kami perbaiki untuk persiapan TOC. Seperti Writing itu menjadi tantangan kami,” jelasĀ  Kayana, yang diamini Hasya, mewakili rekan-rekannya.

Pengalaman baru dan pertama juga dirasakan oleh tim 3 yang beranggotakan Achmad Rahiil Fauzi (kelas 9J), M. Risky Damary (kelas 9H), dan Abhista Dwi Putra Ramadany (kelas 9L). Meski hanya meraih 8 medali perak, tim ini mengaku kaget bisa lolos ke TOC. “Awalnya, hanya ingin mahir bahasa Inggris. Kemudian coba-coba ikut WSC. Waktu pengumuman kami tidak menyangka bisa lolos ke TOC. Alhamdulillah. Masih banyak kekurangan saya. Saya coba merangkum dengan metode bahasan lain untuk beberapa kasus yang sama, agar bisa jadi alternatif jawaban,” ungkap Rahiil. (rhd)

Tinggalkan Balasan