RPPN KPU Belum Penuhi Standar Wisata

Batu, SERU – Himpunan Pelaku Pariwisata Indonesia (HPPI) Kota Batu menyarankan setiap pengusaha wisata memiliki standarisasi seperti yang tertuang dalam UU Pariwisata Nomor 10 Tahun 2009.

Hal ini usai adanya kerusakan LED milik KPU Kota Batu dalam wahana Rumah Pintar Pemilu Nasional (RPPN) di Jatim Park I pada 4 Februari 2020 kemarin, yang rusak akibat kesalahan murid SMK Tegal hingga diharuskan mengganti barang sebesar Rp 18 juta.

Ketua HPPI Kota Batu, Didin Dariyanto mengutarakan jika RPPN belum memiliki standart seperti yang tertuang dalam UU. Buktinya tidak ada penjaga, tenaga ahli wisata yang sudah tersertifikasi dan tour guide yang melakukan edukasi dalam pengoperasian barang elektronik yang berbahaya serta mudah rusak di lokasi kepada wisatawan.

“Harusnya sebelum RPPN dibuka, KPU melakukan kajian terlebih dahulu untuk menetapkan standart usaha wisata dan tenaga kompeten sesuai UU Pariwisata. Sebab jika sampai ada kerusakan, harusnya itu menjadi tanggung jawab pemilik tempat, bukan wisatawan,” keluh Didin, Rabu (12/2/2020).

Karena pemilik tempat wisata harus ikut berpartisipasi mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan melanggar hukum di tempat wisata/usahanya.

“KPU belum sampai sejauh itu, tidak ada tenaga yang menjaga dan melindungi terutama barang milik negara. Tujuannya demi mencegah kesalahan yang sama terulang,” keluh Didin.

Didin berharap masalah ini tidak terjadi kembali, apalagi berencana memprosesnya kemeja hijau. Ini, tambah Didin, sama saja mempermalukan pengusaha pariwisata di Kota Batu. Apalagi menyangkut pariwisata yang bakal berimbas pada kunjungan.

“Kalau dibiarkan bakal menjadi momok wisatawan. Apabila pengamanan tidak dikemas sebaik mungkin, wisatawan takut ke Batu. Misal ada murid atau anakanya yang usil/hiper kemudian tidak sengaja merusakkan barang di wahana. Pasti orangtua atau guru menjadi takut berwisata ke Kota Batu,” bebernya.

Makanya, HPPI menyarankan KPU memperhatikan standardisasi wisata dan aturan bagaimanakah membuka tempat wisata yang dikunjungi oleh banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda.

“Bukan hanya KPU, tapi bagi pengusaha pariwisata yang lain juga. Mohon dikaji dahulu dan menstandartkan sistem pelayanan di tempat tersebut,” ungkapnya.

Pasalnya, dunia pariwisata merupakan dunia yang menyenangkan mengedepankan pelayanan, keramahan dan penuh senyum.(rka)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan