Kota Malang, SERU – Permasalahan air tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga menjadi permasalahan global secara internasional. Tentunya, proses penanganannya memiliki karakteristik berbeda. Melalui Konferensi Internasional bertajuk The 3rd ICWREDP: Multi Perspective on Water Related Challenges (multi perspektif pada tantangan terkait air, red) yang diinisiasi Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, mampu menemukan solusinya.

Ketua Panitia Kegiatan International Converence of Water Resources Development and Enviromental Protection (ICWRDEP) 2019, Dr. Eng Andre Primantyo Hendrawan, ST, MT, mengatakan, seminar internasional dua tahunan sejak 2015 ini bertujuan untuk menjawab tantangan dalam pengelolaan air menurut berbagai perspektif, serta upaya pemecahan dengan melahirkan kebijakan/rumusan atau teknologi terkini. Diharapkan, kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, ilmuwan asing, dan birokrasi selaku pemegang kebijakan, bisa mendapatkan kesatuan pemikiran yang sama.

Sekjen KemenPUPR Prof (R) Dr Ir Anita Firmanti Eko Susetyowati, MT, dan Dirut PJT I Raymond Valiant Ruritan, ST, MT, memaparkan pemikirannya. (rhd)

“Kami sengaja mengundang pihak birokrasi agar bisa membuat kebijakan/rumusan atau teknologi terkini untuk menjawab tantangan-tantangan yang ada dari berbagai narasumber. Tak hanya dari Indonesia, namun juga dari Malaysia, Thailand, Taiwan dan Jepang, dengan mengusung berbagai konsep masing-masing dengan integrasi background mereka yang berbeda,” jelas Andre, ditemui di Auditorium Prof Ir Suryono, Gedung Dekanat Fakultas Teknik UB lantai 2, Sabtu (12/10/2019).

Dosen teknik pengairan UB ini menambahkan, semakin tahun, kesulitan membedakan disaster bencana alam atau bencana akibat manusia semakin kompleks. Dengan keterlibatan semua pihak, diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah agar dapat menemukan dan mengembangkan sumber daya alam terkait air yang lebih baik. “Gempa atau tanah longsor, atau polusi air sudah semakin parah. Melalui ICWRDEP kali ketiga ini, harapannya dapat menghasilkan berbagai kebijakan yang lebih komprehensif untuk menuju sumber daya air yang lebih baik,” bebernya.

Dr. Eng Andre Primantyo Hendrawan, ST, MT, menjawab pertanyaan awak media.

Sekitar 200 peserta dari berbagai negara turut ambil bagian, termasuk 7 peserta asing dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, Jepang, Belanda, dan Perancis. Dimana ada 65 judul paper diusung sebagai syarat level Internasional Conference. “Dari berbagai makalah yang masuk, ada sekitar 65 judul paper yang dipresentasikan. Makalah-makalah itu dikelompokan dalam beberapa sub tema untuk dipresentasikan dan disajikan dalam bentuk poster. Subtema tersebut, antara lain Teknik dan Manajemen Sungai, Teknik Lingkungan dan Sanitasi, Pengurangan Risiko Bencana yang disebabkan oleh Air, Rekayasa & Manajemen Sumber Daya Air, dan Rekayasa & Manajemen Pesisir,” tandas Andre.

Senada, Dekan FTUB, Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono, MT, mengatakan masalah sumber daya air kini semakin kompleks. Sebagai PTN, menjadi kewajiban melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi menjawab solusinya. “Kebutuhan air atau demand terus meningkat, sementara jumlah supply tetap. Sehingga terjadi gab antara supply dan demand air. Ini menjadi masalah kompleks. Pas hujan kelebihan, pas kemarau kekurangan. Ini butuh manajemen air yang baik. Dengan berbagi pengalaman dari para narasumber luar negeri, permasalahan tersebut bisa kita minimalisir, dan kita perbaiki untuk masa depan,” ungkap Pitojo.

FT 4 : Pemberian cenderamata oleh Dekan FT-UB kepada para narasumber. (rhd)

Beberapa narasumber sebagai Keynote Speaker, di antaranya Sekretaris Jenderal KemenPUPR Prof (R) Dr Ir Anita Firmanti Eko Susetyowati, MT, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan, ST, MT, Prof Masaharu Fujita (Disaster Prevention Research Institute (DPRI) Kyoto University), Prof Hwa Chien (dari National Central University Taiwan), Dr Muzamir Hasan (dari Universiti Malaysia Pahang, Malaysia), dan Dr. Asadawut Areesirisuk (dari Rajamangala University of Technology Thailand).

“Kualitas air selalu kita pantau. Seperti DAS Brantas, Bengawan Solo, Bogowonto, dan lain secara rutin, baik bulanan atau triwulan pada air di sungai dan limbah. Datanya kita laporkan ke Provinsi, LHK dan PUPR untuk pengambilan kebijakan. Mikro plastik memerlukan sistem analis berbeda, karena mikron butuh teknologi.
Dan sampah plastik memang paling banyak. Contohnya Bendungan Sengguruh bisa mencapai sekitar 1.700-2.500 meter kubik sampah plastik, dimana hanya 30 persen yang bisa diolah. Ini tetap jadi masalah dan perlu solusi,” ungkap Dirut PJT I Raymond.

Kebiasaan membuang sampah ke sungai masih menjadi masalah bersama. Selain itu, industri juga membuang limbah ke sungai, dimana jauh dari standarisasi yang diperbolehkan. “Tak hanya masalah air, tapi juga kelompok sampah organik dan anorganik serta limbah industri. Seharusnya, saat di darat sudah dibedakan untuk dibuang di darat. Bukan ke air. Contoh Walikota Surabaya Risma memiliki kepedulian yang tinggi, sudah terlihat perubahan lebih baik. Kepala daerah bisa mencontohnya,” beber Sekjen KemenPUPR, Anita Firmanti. (rhd)

Tinggalkan Balasan